Alasan Mal Besar di Jakarta dan Surabaya Memasang Pagar Tinggi
Pengelola mal besar di Jakarta dan Surabaya akhirnya memberikan penjelasan terkait pemasangan pagar tinggi yang sempat menimbulkan berbagai spekulasi dari masyarakat. Fenomena ini memicu kekhawatiran publik, khususnya setelah beberapa mal besar mulai menghadirkan pagar besi setinggi 2,5 hingga 3 meter di sekitar area luar bangunan.
Beberapa mall yang terkenal dengan adanya pagar tinggi antara lain Mal Kota Kasablanka dan Blok M Plaza. Di Jakarta, pengamatan juga ditemukan di area perkantoran seperti EightyEight@Kasablanka Tower dan Menara Bank BNI Pejompongan. Di Surabaya, hal serupa juga terjadi pada mal besar seperti Pakuwon Mall, Tunjungan Plaza, Royal Plaza, hingga Pakuwon City Mall.
Fenomena ini membuat warga berspekulasi bahwa pagar tersebut dipasang sebagai antisipasi terhadap aksi unjuk rasa besar-besaran. Namun, pengelola mal membantah spekulasi tersebut dan memberikan penjelasan resmi mengenai alasan pemasangan pagar tinggi.
Penjelasan Pengelola Mal
Direktur Marketing Pakuwon Group sekaligus Direktur PT Pakuwon Jati Tbk, Sutandi Purnomosidi, menjelaskan bahwa pemasangan pagar tinggi sudah menjadi ciri khas dari bangunan yang dikelola oleh perusahaan tersebut. Ia menyatakan bahwa konsep pagar tinggi ini telah diterapkan sejak lama, bahkan mulai dari mal legendaris mereka di Jakarta Selatan.
“Mal Pakuwon sudah banyak yang dipagari. Royal Plaza sudah dipagari sejak tahun 2006, sudah 20 tahun. Pagarnya pakai hollow hitam, sekarang sudah karatan kena panas dan hujan,” ujar Sutandi dalam sebuah pernyataan.
Menurutnya, pemasangan pagar perimeter awalnya dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kerapian arus pejalan kaki. Tujuannya adalah mencegah orang menyeberang atau masuk keluar kawasan mal secara sembarangan di titik-titik yang berbahaya.
“Awalnya kita berpikir Pakuwon Mall ini kan lebar sekali, nyambung sampai Citra Land. Kalau semua orang nyebrang masuk sembarangan, bahaya buat mereka sendiri. Awalnya di sana niatannya,” jelas Sutandi.
Ia juga menepis isu bahwa pemasangan pagar berkaitan dengan informasi khusus mengenai situasi keamanan di Jakarta maupun Surabaya. “Jadi ada beberapa hal yang mau saya highlight. Pakuwon bukan peramal, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mal Pakuwon Group yang dipagari itu sebenarnya sudah banyak,” tegasnya.
Respons dari Pihak Berwenang
Fenomena ini sebelumnya juga direspons oleh aparat kepolisian. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyampaikan bahwa pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan fungsi intelijen untuk menganalisis perkembangan situasi keamanan. Namun, ia memastikan kondisi secara umum di Jakarta tetap terkendali.
“Perlu kami sampaikan bahwa situasi sampai saat ini masih bisa dapat dikendalikan. Ini berkat kerja sama Polda Metro Jaya dengan Kodam Jaya. Jadi menciptakan rasa aman itu bukan menjadi tanggung jawab satu institusi, tapi berbagai institusi termasuk dari masyarakat,” ujar Budi.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga memberikan tanggapan senada. Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan situasi perdagangan dan aktivitas di pusat perbelanjaan berjalan normal tanpa ada ancaman tertentu.
“Kemarin koordinasi dengan kayak APPBI ya, Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia, enggak ada masalah kok, enggak ada isu apa-apa. Aman-aman saja,” kata Budi Santoso.
Keberadaan Pagar di Berbagai Mal
Pagar besi abu-abu yang terpasang di area Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, membentang sepanjang kurang lebih 100 meter. Pagar ini melingkupi pintu masuk utama hingga akses kendaraan di Jalan Raya Casablanca. Penerapan ini turut mengamankan area superblok di sekitarnya, termasuk gedung perkantoran EightyEight@Kasablanka.
Di Blok M Plaza, keberadaan pagar perimeter telah terintegrasi sejak lama sebagai bagian dari tata ruang dan keamanan akses pengunjung. Pagar ini menjadi bagian dari desain bangunan yang dirancang untuk menjaga keamanan serta kenyamanan pengunjung.










Discussion about this post