Pameran “Objects that Remember” di Amsterdam: Benda-Benda yang Menjadi Eksil
Pameran seni yang diberi judul “Objects that Remember” yang diselenggarakan oleh Universitas Amsterdam dan International Institute of Social Story (IISG) di Belanda pada pertengahan Juni 2026, menampilkan berbagai benda-benda yang disebut sebagai eksil. Pertanyaannya adalah, bagaimana sebuah benda bisa disebut eksil? Apa hubungannya dengan Budiman Sudjatmiko?
Dalam kamus Oxford, arti kata exile adalah keadaan ketika seseorang dipaksa meninggalkan negaranya, terutama karena alasan politik, atau masa yang dihabiskan jauh dari negara asal. Dalam konteks pameran ini, istilah “benda-benda sebagai eksil” merujuk pada barang-barang yang menjadi simbol perjuangan, penindasan, dan pengasingan.
Salah satu penyelenggara pameran, Rika Theo, menjelaskan bahwa selain benda-benda yang memang dibawa para eksil 1965 asal Indonesia, ada juga benda-benda lain yang dilarang keberadaannya di Indonesia. Misalnya, buku-buku atau poster-poster kiri, atau terkait isu sensitif pelanggaran HAM yang belum tuntas, seperti ornamen terkait pembunuhan aktivis hak asasi manusia, Munir.
Pameran ini juga menampilkan barang-barang yang menjadi eksil dalam melawan otoritarianisme di Indonesia. Contohnya, kalender PRD, Partai Rakyat Demokratik yang memperlihatkan protes Suara Ibu Peduli, kekerasan terhadap aktivis buruh Dita Sari, foto Budiman Sudjatmiko dengan Xanana Gusmao, atau Budiman Sudjatmiko dengan Pramoedya Ananta Toer saat PRD memberikan penghargaan. Budiman Sudjatmiko dulu mengetuai partai berhaluan kiri itu.
Di pameran tersebut, karya seni Taring Padi dan poster-poster besutan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER), kolektif yang kerap dianggap “musuh” Orde Baru, juga turut dipamerkan. Tak ketinggalan ada juga properti demonstrasi seperti sticker, kaos, pin, yang dikenakan pendemo dari berbagai aksi. “Barang-barang ini dikumpulkan dan dibawa ke Belanda untuk diarsipkan IISG,” tutur Rika.
Latar Belakang JAKER dan PRD
JAKER merupakan organisasi yang didirikan sekitar tahun 1994 oleh sejumlah seniman, di antaranya Wiji Thukul, untuk membangun jaringan solidaritas antarseniman dan mengembangkan seni yang berpihak kepada rakyat. Sementara PRD lahir beriringan dengan perlawanan rakyat terhadap kediktatoran Soeharto. Embrionya berwujud jejaring aktivis mahasiswa antarkota yang bersolidaritas dengan rakyat. Persenyawaan mahasiswa dan rakyat itu melahirkan sejumlah organisasi yang dekat dengan PRD, termasuk Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan JAKER.
Tak lama setelah deklarasi PRD, pecah kasus 27 Juli 1996 atau “Kerusuhan 27 Juli” alias “Kudatuli” yang dipicu pengambilalihan paksa kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Rezim Orde Baru menuding PRD sebagai “dalang” Kudatuli, dengan mengecap PRD sebagai “setan gundul” dan “organisasi tanpa bentuk”, termasuk afiliasi-afiliasinya.
Mereka yang Tak Kembali
Setelah itu, antara tahun 1997-1998 sejumlah aktivis yang dianggap membangkang Orde Baru hilang tanpa jejak. Poster wajah mereka yang masih belum ditemukan ini pun muncul dalam pameran yang memicu sedu sedan tangisan Lina, seorang aktivis buruh di masa-masa itu. “Saya jadi ingat lagi beberapa kawan di sana yang sekarang mungkin entah ada di mana karena masih hilang dan sangat emosional bagi saya. Jadi ini seperti mengunjungi masa lalu saya,” ucapnya sambil berkali-kali mengelap air matanya yang tumpah.
Sejumlah aktivis telah kembali dan bahkan ada yang duduk di pemerintahan. Namun belasan lainnya masih menyisakan tanda tanya. Bagi Lina pameran ini mencoba mengembalikan lagi ingatan dan mengingatkan pada mereka yang mungkin tidak mengalami masa-masa bergejolak di tanah air kala ini. “Mungkin bahkan anak saya atau ponakan-ponakan saya itu tidak mendapatinya dari buku-buku sekolah, dari cerita-cerita para gurunya di institusi pendidikan mereka.”
Ia berharap acara seperti ini bisa dibuat lagi di banyak tempat dan lebih bisa diakses meskipun sekarang ia tahu bahwa kondisi di Indonesia tidak memungkinkan untuk hal ini seperti ini. “Ruang demokrasi yang dulu pernah diperjuangkan itu ternyata sekarang berbalik ke arah seperti kembali masa lalu lagi. Duh, melihat selebaran-selebaran di sini rasanya perjuangan seperti jalan di tempat. Mungkin sekarang malah lebih-lebih sulit kondisinya karena gempuran media juga berbeda dengan karakternya seperti pada masa lalu di mana kita masih bisa percaya pada media untuk bisa membantu dan ikut memperjuangkan (demokrasi),” ujarnya di sela isak tangis.
Para aktivis yang belum kembali adalah Yani Afri, Sonny, Deddy Hamdun, Noval Al Katiri, Ismail, Wiji Thukul, Suyat, Herman Hendrawan, Petrus Bima Anugrah, Ucok Munandar Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin dan M. Yusuf.
Deretan “Barang sebagai Eksil”
Di pameran, tulisan palu arit tertera dalam instalasi tumpukan buku-buku kiri Karl Marx-Friedrich Engel, Gramsci dan lainnya. Instalasi itu dibuat oleh JAKER tahun 2001. Sejumlah jurnal-jurnal terbitan eksil di mancanegara tertata di atas meja, di antaranya Mimbar, Indonesian Tribune, Arena, Kreasi dan API. Rika memaparkan: “Barang-barang ini diciptakan ketika para eksil dalam pengasingan. Ini majalah-majalah yang ditulis para eksil sendiri. Mereka punya banyak kelompok dengan tujuan-tujuannya sendiri. Ada yang ditulis di Cina, Rusia, Belanda, Jerman, Prancis, dll. Ada lebih banyak dari yang dipamerkan di sini,” tandasnya.
Pengunjung yang Mengingat
Salah satu pengunjung pameran asal Indonesia bernama Ammar yang merupakan kelahiran tahun 1997 merasa beruntung bisa menikmati kebebasan di Indonesia. Namun, penting baginya untuk merawat ingatan: “Ini adalah ingatan untuk tetap terus melawan dan mengingat itu bentuk perlawanan itu. Saya pribadi bersama teman-teman bersolidaritas tetap melawan tindakan represif dan otoriter.”








Discussion about this post