Teheran kembali menyerang kebijakan Washington setelah Amerika Serikat memperluas sanksi terhadap sektor penerbangan Iran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, mengatakan Presiden AS Donald Trump kini berada dalam posisi yang serba sulit karena, menurut dia, tidak bisa memilih antara melanjutkan konflik atau kembali berunding dengan Teheran. Pernyataan itu disampaikan di tengah pembatasan penerbangan Iran yang ikut meluas ke sejumlah negara di kawasan.
Rezaei menilai langkah AS membatasi jalur udara Iran merupakan tanda kegagalan Washington dalam menghadapi Iran lewat kekuatan militer. Ia bahkan menyebut Trump sedang “terjebak dalam rawa”, sebagaimana dikutip dari laporan media Iran pada Selasa (29/9/2026). Dalam pandangannya, tekanan terhadap maskapai Iran bukan menunjukkan kekuatan, melainkan justru memperlihatkan kebuntuan strategi pemerintah AS.
Sebelumnya, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada 27 maskapai penerbangan Iran sebagai bagian dari Operation Economic Outcast. Pemerintah AS menuduh jaringan penerbangan tersebut dipakai untuk memindahkan senjata, personel, dan kargo yang dikaitkan dengan aktivitas ilegal. Setelah kebijakan itu berlaku, beberapa negara di kawasan ikut mengambil langkah serupa, termasuk Uni Emirat Arab yang menghentikan penerbangan Iran dari dan ke bandara mereka.
Rezaei juga mengaitkan kebijakan itu dengan persoalan yang lebih luas di meja diplomasi. Ia mengatakan Washington tidak berhasil menekan Iran melalui jalur militer, tetapi pada saat yang sama juga belum mampu mencapai kesepakatan lewat perundingan. Karena itu, menurut dia, AS memilih “blokade udara” sebagai cara menambah tekanan. Ia pun mengingatkan agar pihak asing tidak meremehkan daya tahan Iran dengan menyinggung panjangnya sejarah kawasan.
Di saat yang sama, komunikasi tak langsung antara Iran dan AS masih berlangsung melalui mediator. Qatar dan Pakistan disebut menjadi penyalur pesan antara Teheran dan Washington, meski kedua negara belum sepakat soal syarat untuk kembali duduk bersama. Iran sebelumnya meminta beberapa hal, antara lain penghentian perang, pencairan aset yang dibekukan, serta berakhirnya blokade angkatan laut AS. Teheran juga mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan pemenuhan tuntutan tersebut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut menanggapi tekanan terhadap penerbangan negaranya. Ia menyebut Trump mengeluarkan perintah dari kejauhan dan kemudian diikuti oleh sejumlah negara lain dalam menerapkan pembatasan. Pezeshkian menegaskan Iran akan berupaya menggagalkan langkah yang menurutnya bertujuan memecah belah negeri itu, sekaligus menjaga hubungan dengan negara sahabat dan tetangga. Rezaei sendiri sebelumnya sudah memperingatkan negara-negara regional agar tidak ikut menutup akses penerbangan Iran, karena menurutnya ada risiko tindakan balasan dari Teheran.
Sumber: style.tribunnews.com










Discussion about this post