Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli 2026 menunjukkan peta dukungan publik yang berbeda untuk dua tokoh nasional. Dalam simulasi semi terbuka pemilihan presiden, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meraih 35 persen dukungan responden, sementara Presiden Prabowo Subianto berada di angka 14,5 persen. Data ini dihimpun pada 5–19 Juli 2026 dan diumumkan SMRC pada 29 Juli 2026.
Temuan tersebut langsung menarik perhatian karena menampilkan jarak elektabilitas yang cukup lebar di antara keduanya. Jika dibandingkan dengan survei sebelumnya, angka itu juga mengindikasikan pergeseran preferensi publik yang terus bergerak. Dalam laporan SMRC, Dedi tampil sebagai figur dengan dukungan paling besar di antara nama-nama yang diuji pada simulasi tersebut.
Pengamat politik Universitas Pasundan, Fahmy Iss Wahyudi, menilai hasil itu sejalan dengan tren yang sudah terbaca sejak beberapa bulan sebelumnya. Menurutnya, kenaikan dukungan untuk Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM bukan fenomena mendadak, melainkan kelanjutan dari penguatan elektabilitas yang mulai terlihat sejak akhir 2025.
Fahmy menyampaikan penilaiannya pada Kamis, 30 Juli 2026. Ia melihat kecenderungan dukungan terhadap Dedi terus menanjak dalam beberapa kali pengukuran survei, sedangkan Prabowo justru memperlihatkan arah sebaliknya pada hasil SMRC kali ini. Dengan kata lain, dua tokoh itu bergerak pada lintasan yang berbeda dalam persepsi pemilih.
Survei semacam ini biasanya digunakan untuk membaca suhu politik dan menangkap perubahan sikap publik terhadap calon-calon potensial. Karena dilakukan dalam format semi terbuka, responden diberi ruang memilih dari daftar nama yang sudah disiapkan, sehingga hasilnya kerap dipakai untuk melihat siapa saja yang sedang menguat di benak pemilih. Dalam konteks itu, angka 35 persen untuk Dedi dan 14,5 persen untuk Prabowo menjadi sinyal penting mengenai posisi keduanya pada periode pengambilan data tersebut.
Meski demikian, hasil survei tetap perlu dibaca sebagai potret pada waktu tertentu, bukan keputusan akhir mengenai kompetisi politik ke depan. Perubahan elektabilitas masih bisa terjadi seiring dinamika politik, kinerja tokoh, dan perkembangan isu nasional yang memengaruhi opini publik. Namun, untuk periode Juli 2026, SMRC mencatat Dedi Mulyadi unggul cukup jauh atas Prabowo dalam simulasi calon presiden yang mereka publikasikan.










Discussion about this post