Rui Pinto, peretas asal Portugal, kembali menjadi sorotan setelah rangkaian dokumen yang ia bocorkan lewat Football Leaks ikut menyeret Manchester City ke pusaran kasus aturan keuangan Premier League. Pada Jumat, klub itu dilaporkan dinyatakan bersalah atas sebagian besar dari 115 dakwaan pelanggaran. Bagi pendukung City, nama Pinto mungkin tidak langsung dikenali, tetapi dampak bocorannya telah lama terasa di sepak bola Eropa.
Nama Pinto lekat dengan Football Leaks, situs yang ia dirikan pada 2015 untuk membuka apa yang ia sebut sebagai sisi tersembunyi dunia sepak bola. Dari platform itu, ia membagikan dokumen internal klub, termasuk surel soal sponsor dan pembayaran. Materi tersebut kemudian berkembang menjadi kumpulan data besar yang tak hanya menyingkap urusan Manchester City, tetapi juga melibatkan banyak figur dan institusi penting di sepak bola.
Di tanah kelahirannya, Pinto tumbuh di Vila Nova de Gaia, wilayah yang berada di seberang Sungai Douro dari Porto. Ayahnya, Francisco, pernah bekerja di pabrik sepatu sebelum beralih menjadi pedagang barang antik. Ibunya meninggal saat Pinto berusia 11 tahun. Salah satu mantan gurunya, Mario Falcao, mengenangnya sebagai siswa yang biasa saja, ramah, dan tidak menonjol sebagai sosok yang gemar tampil di depan umum.
Falcao juga mengingat kemampuan komputer Pinto sudah terlihat sejak muda. Menurutnya, tugas-tugas sekolah yang berkaitan dengan teknologi kerap dikerjakan dengan sangat baik jika Pinto benar-benar fokus. Meski begitu, masa remajanya disebut berjalan sederhana: pergi ke pusat kebugaran, makan di McDonald’s, dan menjalani hidup seperti remaja lain pada umumnya. Karena itulah, Falcao mengaku terkejut saat bekas muridnya itu kemudian dikenal luas sebagai tokoh di balik salah satu kebocoran data terbesar dalam sepak bola.
Reaksi serupa juga muncul ketika Pinto diumumkan sebagai pendiri Football Leaks pada 2019. Falcao mengatakan tidak pernah membayangkan muridnya akan berhadapan dengan persoalan hukum sebesar itu. Ia bahkan menduga ada campuran antara kenakalan masa muda, bakat komputer, kedekatan dengan dunia klub, dan mungkin juga dorongan moral yang membuat Pinto mengambil jalan tersebut. Dalam pandangannya, kecintaan Pinto pada FC Porto bisa saja ikut membentuk sikapnya, disertai rasa ingin menegakkan keadilan yang kerap muncul pada anak muda.
Di sisi lain, jurnalis olahraga Portugal Antonio Varela termasuk orang pertama yang menerima kiriman dari Football Leaks. Saat itu, Pinto masih bersembunyi di balik nama “John”. Varela mengingat momen ketika email itu masuk ke ruang redaksi Record pada September 2015 sebagai sesuatu yang mengejutkan. Setelah membuka situsnya, ia melihat begitu banyak data yang belum pernah muncul di ruang publik dan langsung menyadari nilainya sangat besar.
Namun, penggunaan dokumen hasil peretasan memunculkan dilema hukum sekaligus etika. Varela menilai sumber informasinya memang diperoleh secara ilegal, tetapi begitu dipublikasikan di situs, materi itu berubah menjadi informasi publik. Dari sudut pandangnya, kepentingan umum lebih penting daripada kerumitan etika. Setelah itu, Football Leaks meluas jauh melampaui Portugal dan memuat dokumen tentang pemain, klub, serta agen besar seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Neymar. Pinto kemudian bekerja sama dengan Rafael Buschmann dari Der Spiegel, yang menerima puluhan juta dokumen untuk diperiksa, diverifikasi, dan dianalisis sebelum dipublikasikan.
Sumber: www.jawapos.com










Discussion about this post