Maroko mencatat sejarah baru setelah Raja Mohammed VI menunjuk Fatima Ezzahra El-Mansouri sebagai kepala pemerintahan. Penunjukan pada Selasa, 29 September 2026 itu menjadikan El-Mansouri perempuan pertama yang dipercaya memegang jabatan perdana menteri dalam sejarah demokrasi negara tersebut. Keputusan itu diambil setelah partainya, Partai Authenticity and Modernity (PAM), keluar sebagai pemenang pemilu parlemen pada 23 September 2026.
Langkah berikutnya kini ada di tangan El-Mansouri. Dalam pernyataan tertulis, sang raja meminta dirinya segera menyusun kabinet baru karena pemerintah akan menghadapi sejumlah pekerjaan besar. Salah satu agenda utama adalah menyiapkan dana sekitar 20 miliar dolar AS, atau setara Rp360 triliun, untuk mendukung penyelenggaraan Piala Dunia 2030. Maroko akan menjadi salah satu tuan rumah bersama Spanyol dan Portugal.
Di samping urusan olahraga, pemerintahan baru juga dihadapkan pada persoalan diplomatik yang sensitif. El-Mansouri disebut harus menangani kasus imigran Ceuta yang sempat memicu ketegangan pada Juli lalu dan membuat hubungan Maroko dengan Spanyol memburuk. Raja Mohammed VI berharap persoalan itu bisa diselesaikan secara cepat agar tensi dengan Madrid tidak kembali meningkat.
Kemenangan PAM dalam pemilu parlemen menjadi dasar penunjukan tersebut. Partai itu meraih 97 kursi, unggul atas Partai National Rally of Independents (RNI) yang berhaluan liberal-sentris dengan 66 kursi, serta Partai Istiqlal yang beraliran nasionalis konservatif dengan 65 kursi. Komposisi kursi itu menempatkan PAM sebagai kekuatan terbesar di parlemen, sehingga kadernya berhak mendapat mandat membentuk pemerintahan.
El-Mansouri sendiri bukan wajah baru dalam politik Maroko. Perempuan berusia 50 tahun itu dikenal sebagai pengacara sekaligus politisi yang sudah lama berkecimpung di pemerintahan. Sebelum menerima mandat sebagai perdana menteri, ia pernah menjabat Wali Kota Marrakech dan Menteri Perumahan dalam kabinet yang sedang berjalan. Rekam jejak itu membuat namanya cukup menonjol di lingkaran elite politik negeri tersebut.
Karier politik El-Mansouri dimulai seiring lahirnya PAM pada 2008. Partai itu didirikan oleh seorang penasihat Raja Maroko dengan tujuan menandingi Partai Islamist Justice and Development (PJD). Kini, PAM menjadi partai terbesar kedua dalam koalisi pemerintahan. Penunjukan El-Mansouri juga sejalan dengan pola yang selama ini terlihat di istana, karena Mohammed VI dalam beberapa tahun terakhir kerap memberi ruang lebih besar kepada perempuan, termasuk dengan menempatkan sekitar empat menteri perempuan dalam kabinet dan sejumlah penasihat perempuan di lingkaran pemerintah.
Secara sistem, Maroko adalah monarki konstitusional yang memberi raja kewenangan menunjuk perdana menteri. Biasanya, jabatan itu diberikan kepada politisi dari partai yang menang pemilu dan memiliki kursi terbanyak di parlemen. Dengan mandat baru ini, El-Mansouri akan menjadi tokoh kunci dalam mengelola agenda domestik maupun persiapan Maroko menghadapi proyek-proyek besar dalam beberapa tahun ke depan.
Sumber: www.idntimes.com










Discussion about this post