Pocong: Mitos Abadi yang Kembali Menggemparkan Dunia Maya
Dalam beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh berbagai narasi seputar kemunculan sosok pocong. Salah satu cerita yang paling menghebohkan adalah penampakan pocong yang konon meneror warga sambil membawa senjata tajam. Namun, penelusuran pihak kepolisian di lapangan mengungkap fakta mengejutkan: fenomena teror pocong yang dilaporkan di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, sebagian besar adalah berita bohong (hoax). Dikatakan bahwa kemunculan pocong tersebut merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) atau ulah iseng anak muda yang sengaja membuat konten media sosial demi meraih popularitas.
Meskipun kebenaran teror pocong ini masih dipertanyakan, sosok pocong itu sendiri bukanlah entitas baru dalam imajinasi kolektif masyarakat Indonesia. Ia telah lama hidup dalam mitos dan kepercayaan yang diwariskan turun-temurun, menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita rakyat dan kearifan lokal.
Pocong: Hantu yang Hidup dalam Imajinasi Kolektif Masyarakat
Merujuk pada buku “Kumpulan Kisah Nyata Hantu di 13 Kota” karya Argo Wikanjati (2019), secara etimologis, istilah “pocong” berasal dari bahasa Jawa yang berarti terbungkus atau jasad yang dililit kain putih. Bagi sebagian masyarakat, kemunculan pocong tidak hanya dipandang sebagai makhluk gaib semata. Sosok ini kerap kali diasosiasikan dengan simbol kematian, pertanda buruk, atau bahkan pesan tertentu yang diyakini berasal dari alam lain.
Legenda urban tentang pocong juga seringkali dikaitkan dengan arwah yang belum menemukan kedamaiannya, atau yang dikenal sebagai arwah gentayangan. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh kematian yang tragis, seperti akibat kecelakaan lalu lintas, menjadi korban pembunuhan, atau alasan mengerikan lainnya. Kepercayaan yang beredar di masyarakat adalah bahwa melihat pocong dapat menjadi pertanda buruk atau bahkan malapetaka. Akibatnya, masyarakat seringkali melakukan ritual atau upacara khusus untuk membantu arwah pocong menemukan ketenangan abadi.
Di berbagai daerah di Indonesia, kisah tentang pocong terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Keberagaman mitos yang menyertainya menjadikan pocong sebagai salah satu sosok hantu paling populer dan ikonik dalam budaya Indonesia.
Di Balik Teror Pocong: Mitos Lama yang Dipercaya Turun-Temurun
Penelitian yang ditulis oleh Zulkifli dan Risa Pramita Wilda Fitria dalam artikel ilmiah berjudul “Mistisisme Pocong Sebagai Representasi Arwah Gentayangan (Studi Tipologi Clifford Geertz)” menguatkan posisi pocong sebagai salah satu figur mistis yang paling dikenal dalam tradisi masyarakat Indonesia.
Dalam kepercayaan yang telah mengakar secara turun-temurun, pocong digambarkan sebagai jenazah yang masih terbungkus rapi dalam kain kafan, lengkap dengan ikatan pada bagian kepala, leher, dan kaki. Sebagian orang meyakini bahwa roh seseorang masih berada di sekitar kita selama kurang lebih 40 hari setelah kematian. Oleh karena itu, kemunculan sosok pocong kerap kali dikaitkan dengan arwah yang gelisah atau gentayangan.
Keyakinan ini kemudian melahirkan berbagai macam legenda urban yang beredar mengenai pocong. Salah satu mitos yang paling populer menyebutkan bahwa sosok pocong muncul karena ikatan kain kafannya belum dilepas ketika jenazah dikuburkan.
Gambaran fisik pocong pun sangat beragam. Ada yang meyakini sosok ini memiliki wajah pucat dengan mata yang tertutup kapas, sementara versi lain menggambarkannya dengan wajah yang tampak gosong dan sorot mata merah menyala.
Menariknya, citra pocong yang digambarkan melompat-lompat justru lebih banyak dipengaruhi oleh budaya populer, terutama melalui film-film horor. Padahal, dalam cerita rakyat tradisional, sosok pocong digambarkan bergerak dengan cara melayang.
Seiring berjalannya waktu, mitos tentang pocong terus berkembang dan beradaptasi dengan konteks sosial di berbagai daerah. Setiap wilayah memiliki versi ceritanya sendiri yang diwariskan melalui tradisi lisan dari generasi ke generasi.
Krisis Etika di Balik Fenomena Teror Pocong
Dosen Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Radius Setiyawan, berpendapat bahwa fenomena teror pocong yang belakangan ini marak tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan mistis. Menurutnya, sosok mistis yang dulunya hanya dikenal sebagai legenda urban kini mengalami pergeseran makna yang signifikan. Ketakutan kolektif masyarakat justru dimanfaatkan sebagai alat untuk melakukan kriminalitas, bahkan menjadi komoditas dalam ranah digital.
“Kemunculan hantu memberikan daya kejut yang luar biasa di masyarakat. Mereka sangat mungkin panik dan kehilangan kemampuan berpikir rasionalnya. Di situlah hantu sengaja digunakan sebagai instrumen teror,” ujar Radius di Surabaya, Jumat (30/5).
Di sisi lain, isu teror pocong berkembang sangat pesat di media sosial. Sosok pocong dan berbagai narasi horor yang menyertainya dimanfaatkan dalam berbagai bentuk konten, mulai dari prank, rekayasa visual, hingga tayangan hiburan yang dirancang khusus untuk menarik perhatian publik.
Algoritma media sosial bekerja dengan prinsip yang sederhana: semakin sering sebuah konten dibahas di dunia maya, semakin besar pula peluangnya untuk menjadi viral dan masuk ke halaman FYP (For Your Page). Kondisi ini membuat konten horor memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Tingginya jumlah penonton, pengikut, dan interaksi membuka peluang besar bagi para kreator untuk memperoleh keuntungan finansial dari konten yang mereka unggah.
Namun, Radius menegaskan bahwa cara-cara manipulatif seperti ini telah melampaui batas-batas kemanusiaan. “Kalau motifnya adalah prank atau bahkan begal, ini sudah menjadi cerita yang berbeda. Berarti pembuat konten tersebut mengalami krisis etika dan krisis empati. Ini adalah persoalan sosial yang sangat serius,” tegasnya.
Belum Ada Laporan Resmi, Polisi Sebut Teror Pocong Masih Sebatas Narasi Media Sosial
Fenomena teror pocong yang belakangan ramai diperbincangkan di berbagai daerah telah menarik perhatian serius dari Polda Jawa Timur, mengingat isu ini berpotensi menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
Menyikapi fenomena ini, Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sembari meningkatkan kewaspadaan, terutama saat menjelang malam.
“Segera laporkan apabila menemukan hal yang mencurigakan ke layanan 110 atau kantor kepolisian terdekat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya begitu saja dengan isu yang beredar di media sosial,” ujarnya.
Kombes Pol Jules menambahkan bahwa hingga saat ini, pihak kepolisian belum menerima laporan resmi dari masyarakat terkait dengan fenomena teror pocong. Sejauh yang diketahui oleh pihak kepolisian, isu tersebut masih sebatas perbincangan di platform media sosial.
“Setahu saya tidak ada (laporan resmi), jadi ini hanya sebatas isu di media sosial. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tetap tenang namun tetap waspada saat beraktivitas di malam hari. Jangan ragu untuk melapor apabila menemukan hal yang mencurigakan terkait isu teror pocong ini,” pungkas Jules.










Discussion about this post