Upaya Pelestarian Warisan Budaya Melayu Melalui Pendekatan Adaptif
Pelestarian warisan budaya Melayu terus dilakukan dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu inisiatif yang sedang berlangsung adalah pengkajian budaya bertajuk “Manuskrip Tari Melayu Tandjung Katung Karya Alm Guru Sauti Tahun 1957: Kajian Etnokoreologi, Revitalisasi Seni Pertunjukan dan Transformasi Digital”. Proyek ini dilaksanakan oleh Muhdi Kurnia, penerima manfaat Program Bantuan Dana Indonesiana Tahun 2025 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan – Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan RI bekerja sama dengan LPDP dan Kementerian Keuangan RI. Pelaksanaannya berlangsung sejak 22 April hingga 18 Mei 2026.
Fokus pada Pelestarian dan Pengembangan Manuskrip Tari Melayu
Muhdi Kurnia menjelaskan bahwa fokus utama dari pengkajian ini adalah pelestarian, pendokumentasian, dan pengembangan kembali manuskrip Tari Melayu Tandjung Katung karya Alm Guru Sauti yang ditulis pada tahun 1957. Manuskrip tersebut dinilai memiliki nilai penting sebagai warisan budaya Melayu karena memuat rekaman pengetahuan seni pertunjukan tradisional, mulai dari struktur gerak tari, musik pengiring, hingga nilai sosial budaya masyarakat Melayu pada masanya.
Melalui pendekatan etnokoreologi, penelitian menelaah berbagai aspek seperti struktur gerak, estetika pertunjukan, serta konteks budaya yang melatarbelakangi lahirnya Tari Melayu Tandjung Katung. Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan pada revitalisasi seni pertunjukan agar kembali dikenal oleh generasi muda, sekaligus menghadirkan transformasi digital sebagai upaya dokumentasi dan penyebaran pengetahuan budaya di era teknologi informasi.
Tujuan untuk Menjaga Keberlanjutan Seni Tradisi
Menurut Muhdi, tujuan utama dari pengkajian ini bukan hanya mendokumentasikan warisan budaya, tetapi juga menjaga keberlanjutan seni tradisi agar tetap hidup dan dapat berkembang mengikuti zaman. Ia menyatakan bahwa manuskrip Alm Guru Sauti merupakan sumber pengetahuan penting yang perlu diperkenalkan kembali melalui pendekatan akademik, seni pertunjukan, dan media digital.
“Pengkajian ini bukan hanya mendokumentasikan warisan budaya, tetapi juga menjaga kesinambungan Tari Melayu agar tetap hidup dan relevan,” ujar Muhdi.
Keterlibatan Narasumber dan Praktisi Budaya
Dalam pelaksanaannya, Muhdi melibatkan sejumlah narasumber dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidang tari dan musik Melayu. Beberapa di antaranya adalah Yusnizar Heniwaty, SST, MHum, PhD; Dr Dilinar Adlin, Dra, MPd; Gandhur Siraj, SSn, MSn; serta Roy Irawan. Kehadiran para narasumber tersebut dinilai memperkuat validitas kajian dan memperkaya perspektif dalam membaca manuskrip bersejarah tersebut.
Hasil Pengkajian dan Harapan Masa Depan
Hasil pengkajian nantinya diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah, bahan edukasi budaya, sekaligus sumber pengembangan seni pertunjukan Tari Melayu di Indonesia. Selain itu, transformasi digital manuskrip juga diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap warisan budaya lokal agar dapat diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi mendatang.









Discussion about this post