Kondisi Sekolah yang Mengkhawatirkan
Sebanyak 84 siswa dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Tedunan, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara terpaksa menjalani kegiatan belajar di rumah warga. Mereka terdiri dari 28 siswa kelas 4, 29 siswa kelas 5, dan 27 siswa kelas 6. Hal ini dilakukan karena tiga ruang kelas di sekolah mereka mengalami kerusakan parah hingga berpotensi roboh.
Kondisi bangunan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda tidak stabil. Beberapa atap plafon sudah mulai ambrol, sementara struktur bangunan atas melengkung. Untuk memastikan keselamatan siswa dan tenaga pendidik, tiga ruang kelas tersebut harus dikosongkan. Meski demikian, tempat belajar darurat yang disediakan jauh dari kata layak, dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana.
Kehidupan Belajar di Rumah Warga
Tempat belajar darurat yang dijalani siswa kelas 4, 5, dan 6 SDN 1 Tedunan telah berlangsung sekitar dua pekan sejak kegiatan belajar dan mengajar (KBM) tahun ajaran 2026/2027 dimulai. Di ruang kelas yang memanfaatkan rumah warga, para siswa belajar dengan segala keterbatasan.
Setiap siswa duduk berhimpit-himpitan akibat ruangan yang sempit. Mereka hanya difasilitasi meja belajar kecil dan papan tulis sebagai sarana belajar bersama. Ruang yang sempit, panas, dan pengap menjadi teman sehari-hari bagi siswa SDN 1 Tedunan.
Meski begitu, raut senyum wajah para siswa tetap terlihat di setiap pembelajaran. Masing-masing siswa memilih untuk fokus belajar dengan segala keterbatasan yang ada. Sesekali mereka juga bercanda gurau di sela-sela pembelajaran.
Harapan Siswa dan Tenaga Pendidik
Salah satu siswa, Syawwa Luna Ataya Laiza (11), siswi kelas 6 di SDN 1 Tedunan, mengatakan bahwa meskipun belajar di rumah warga dengan kondisi seadanya, dia cukup menikmati proses belajar tersebut. Ia berharap bisa kembali belajar di ruang kelas yang aman seperti sebelumnya.
“Sebenarnya happy-happy saja bareng teman-teman. Meski ruangannya agak panas, pengap dan sempit. Tapi ya bagaimana lagi, kan rusak gak bisa dipakai. Semoga bisa segera diperbaiki,” harap Syawwa.
Kepala SDN 1 Tedunan, Kresna Amiruddin, menjelaskan bahwa ambrolnya plafon ruang kelas terjadi pada 12 Juli 2026. Saat itu, petugas sekolah sedang melakukan pengecatan tembok dan pembersihan semua ruang sekolah untuk menyambut tahun ajaran baru 2026/2027. Akibatnya, ruang kelas 4 ambrol tertimpa material bangunan, kemudian berdampak pada ruang guru dan ruang kelas 5 di sebelahnya.
Upaya Perbaikan dan Kondisi Bangunan Sekolah
Karena kondisi bangunan yang membahayakan, pihak sekolah terpaksa mengosongkan tiga ruang, yaitu ruang kelas 4, kelas 5, dan ruang guru. Kantor guru dan tenaga kependidikan lantas menempati ruang kelas 6. Sehingga siswa-siswi kelas 6, kelas 5, dan kelas 4 terpaksa diungsikan ke rumah warga.
Saat ini, hanya ada ruang kelas 1, kelas 2, kelas 3, dan ruang guru di SDN 1 Tedunan yang masih bisa digunakan. Namun, ruang kelas 1, 2, dan 3 juga berada dalam satu blok dengan ruang kelas 4 dan kelas 5. Oleh karena itu, dikhawatirkan nantinya ikut terimbas rusaknya tiga ruang yang kini sudah tidak bisa dipakai lagi.
Pihak sekolah sudah mengusulkan perbaikan ruang kelas ke Pemkab Jepara melalui Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) untuk mendapatkan anggaran perbaikan segera mungkin. “Alhamdulullah dapat bantuan dari BTT. Nanti disambung dengan anggaran revitalisasi 2027-2028. Semoga segera ditangani agar siswa kembali mendapatkan tempat belajar yang layak,” ujarnya.
Sejarah dan Kondisi Sekolah
SDN 1 Tedunan Jepara sudah berdiri sejak 1985. Artinya, bangunan tersebut sudah 40 tahun tidak mengalami perbaikan, khususnya pada struktur bangunan sekolah. Sekolah tersebut sejak berdiri hanya mengalami perbaikan-perbaikan kecil, seperti pengecatan, pembenahan plafon, dan struktur rangka atap tanpa merubah struktur bangunan utama.
Saat ini, terdapat 157 siswa yang belajar di SDN 1 Tedunan. Terdiri dari kelas 1 ada 28 siswa, kelas 2 ada 27 siswa, kelas 3 ada 18 siswa, kelas 4 ada 28 siswa, kelas 5 ada 29 siswa, dan kelas 6 ada 27 siswa.
Perbaikan ruang kelas yang rusak diharapkan bisa dijalankan secepatnya, agar siswa bisa kembali belajar di ruang kelas masing-masing.









Discussion about this post