Harga Belacan di Bangka Belitung Melambung, Lebih Mahal dari Timah
Harga belacan atau terasi di Bangka Belitung kini mencapai tingkat yang sangat tinggi. Di Pasar Kota Pangkalpinang, satu kilogram terasi bisa mencapai harga Rp250 ribu per kilogram. Bahkan ada pedagang yang menjualnya dengan harga Rp300 ribu per kilogram. Tingginya harga ini bahkan melebihi harga pasir (bijih) timah, komoditas utama ekspor daerah tersebut.
Banyak warga mengeluhkan kenaikan harga belacan ini. Mereka menyebutkan bahwa harga belacan kini lebih mahal daripada harga timah. Hal ini membuat banyak orang terkejut dan menjadi topik pembicaraan di media sosial.
Reaksi Warga dan Viralnya Konten Media Sosial
Anta Wirja, seorang warga Kota Pangkalpinang, membagikan pengalamannya tentang harga belacan dalam sebuah konten video di media sosial. Dalam video tersebut, ia menunjukkan belacan yang dibelinya dan menjelaskan kondisi harga saat ini. Konten ini kemudian viral dan bahkan masuk ke tayangan televisi nasional.
“Saya tidak menyangka bisa sampai sejauh itu. Awalnya hanya iseng berbagi informasi,” ujar Anta. Ia mengatakan bahwa konten tersebut mendapat respons besar dari warganet. Banyak yang kaget dengan kenaikan harga belacan dan membandingkannya dengan daging sapi, bahkan menyebutnya sebagai barang mewah.
Menurut Anta, kenaikan harga belacan menjadi fenomena sosial yang unik di Bangka Belitung. Meskipun harga BBM dan kebutuhan lain naik, reaksi masyarakat terhadap harga belacan jauh lebih besar. “Semua orang bahas, dari ibu rumah tangga sampai pekerja,” katanya.
Pemeriksaan Langsung ke Pasar
Untuk memastikan kondisi harga belacan, Anta langsung datang ke Pasar Pagi Pangkalpinang. Ia bertemu dengan penjual belacan yang biasa dikunjunginya. Setelah menanyakan beberapa pedagang, ia memastikan bahwa harga benar-benar melonjak hingga dua kali lipat.
“Ada yang jual Rp250 ribu per kilo, bahkan ada yang bilang sampai Rp300 ribu. Itu yang membuat saya makin yakin ini harus dibagikan,” lanjutnya.
Belacan bukan sekadar bumbu pelengkap di Bangka Belitung. Hampir semua masakan tradisional menggunakan bahan ini, seperti lempah kuning, lempah darat, dan sambal. Anta bahkan menyebut belacan sebagai “kebutuhan pokok ke-10” bagi masyarakat setempat.
Kenaikan Harga Menjelang Idul Fitri
Kenaikan harga belacan mulai terasa menjelang Idul Fitri 2026. Anta awalnya hanya mendengar kabar dari tetangga sebelum memastikan langsung ke pasar. Saat ia cek, harga benar-benar meningkat.
Menurut Anta, harga belacan juga dipengaruhi oleh kualitas. Belacan dengan warna kemerahan dan aroma khas biasanya dihargai lebih tinggi. “Kalau murah tapi rasanya kurang, tetap orang pilih yang enak. Jadi kualitas tetap nomor satu,” ujarnya.
Belacan asal Toboali, Bangka Selatan, masih menjadi favorit masyarakat karena kualitasnya yang terjaga. Meski harganya tinggi, permintaan tetap tinggi.
Faktor Udang dan Produksi yang Menurun
Rama Karna Maulana, Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan, membenarkan adanya kenaikan harga belacan. Namun, ia menyebut harga di tingkat produsen tidak setinggi yang beredar di media sosial.
“Kalau di Bangka Selatan, kisaran Rp120 ribu sampai Rp150 ribu per kilogram. Sekarang mulai turun di angka Rp100 ribu sampai Rp120 ribu,” ujarnya.
Menurut Rama, kenaikan harga dipicu oleh terbatasnya pasokan bahan baku utama, yakni udang rebon. Kondisi ini menyebabkan produksi belacan menurun. “Memang kemarin bahan bakunya susah. Udangnya tidak mencukupi untuk produksi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi ini merupakan siklus tahunan yang dipengaruhi musim. Saat musim udang melimpah, produksi meningkat dan harga cenderung turun. Sebaliknya, ketika pasokan menurun, harga akan naik.










Discussion about this post