Ringkasan Berita
John Refra Kei, yang dikenal dengan nama lengkap John Kei, adalah seorang pria kelahiran Tutrean, Pulau Kei, Maluku Utara. Ia terkenal dengan julukan “Godfather of Jakarta” karena perannya dalam berbagai kejahatan dan bisnis ilegal yang ia jalani. Nama John Kei kembali menjadi perbincangan setelah insiden tewasnya pamannya, Nus Kei alias Agrapinus Rumatora, di Bandara Karel Sadsuitubun Langgur, Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara, pada Minggu (19/4).
John Kei pernah nyaris membunuh Nus Kei karena masalah penjualan tanah. Meski memiliki hubungan keluarga, keduanya sering terlibat dalam kasus-kasus hukum. Rumah Nus Kei pernah menjadi sasaran amukan kelompok John Kei, bahkan kendaraannya juga mengalami kerusakan.
Kelompok John Kei melakukan penyerangan secara membabi buta di rumah Nus Kei di Klaster Australia, Jalan Boulevard Cipondoh, Tangerang Kota pada 2020 silam. Peristiwa tersebut terjadi setelah adanya ketidakpuasan pembagian uang hasil penjualan tanah antara keduanya. Penyerangan pertama terjadi di wilayah Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, sedangkan penyerangan kedua terjadi di kediaman Nus Kei di Green Lake City, Cluster Australia No 52, Cipondoh, Kota Tangerang.
Selama penyerangan, pintu rumah Nus Kei didobrak, kaca jendela dipecahkan menggunakan barbel, ruang tamu dan kamar tidur dirusak menggunakan parang. Selain itu, satu kendaraan milik Nus Kei dan satu milik tetangganya juga dirusak. Setelah tidak menemukan Nus Kei, kelompok tersebut melanjutkan aksi penyerangan terhadap orang-orang di kawasan tersebut, termasuk menembak security dan pengemudi ojek online.
Saat ini, sebanyak 30 orang terduga pelaku termasuk John Kei telah diamankan oleh pihak kepolisian dan akan dilakukan pendalaman lebih lanjut.
Sejarah Hidup John Kei
John Kei memulai perjalanan hidupnya saat usia 18 tahun ketika ia merantau ke Surabaya. Selama di Surabaya, ia menggelandang dan ditolong untuk membantu Hamba Allah di sebuah gereja. Kemudian, ia memutuskan untuk pindah ke ibu kota, tepatnya di kawasan Berlan, Jakarta Pusat.
Ia dikenal sebagai debt collector melalui organisasi Angkatan Muda Kei (AMKEI). Nama John Kei makin meroket di komunitas underground Jakarta setelah kematian Basri Sangaji yang merupakan pesaingnya. Kematian Basri Sangaji sering dikaitkan dengan John Kei karena antara kelompok John Kei dengan Basri Sangaji sempat bentrok.
John Kei lolos dari jeratan hukum karena tidak terbukti terlibat dalam pembunuhan Basri Sangaji. Namanya tersorot media saat tertangkap karena kasus pembunuhan Tan Harry Tantono, Direktur Sanex Stell Mandiri. Pembunuhan tersebut terjadi pada 26 Januari 2012, dan John Kei terbukti melanggar Pasal 340 Juncto Pasal 55 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Ia divonis 12 tahun penjara pada 27 Desember 2012, kemudian bandingnya ditolak dan hukumannya ditambah menjadi 16 tahun penjara.
John Kei ditahan di penjara Nusakambangan, Cilacap, selama 3 bulan dengan keamanan khusus, CCTV mengintai 24 jam, dan dilarang berinteraksi. Dia hanya bisa keluar dari sel penjara selama satu jam tiap harinya. Lima tahun mendekam di penjara, John Kei sempat mengaku bertaubat dan aktif dalam kegiatan keagamaan selama di penjara. Hal tersebut diungkapkannya melalui acara Kick Andy Show.
Bebas Bersyarat dan Masuk Partai
John Kei bebas bersyarat pada Kamis (26/12/2019), artinya dia hanya menjalani masa hukuman penjara 7 tahun 10 bulan. Sesaat setelah bebas, John Kei sempat mengaku ingin berubah dan hidup tenang bersama keluarganya. Sebulan setelah bebas, ia bergabung dengan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Rabu (15/1/2020), dengan harapan bisa membantu PKPI di Indonesia Timur.
Namun, John Kei kembali ditangkap 6 bulan setelah keluar dari penjara oleh Polda Metro Jaya. Penggerebekan dilakukan di perumahan Tytyan Indah Utama, Kota Bekasi, Jawa Barat, setelah terjadi kasus penembakan, kericuhan, dan pembacokan di perumahan elite Green Lake City, Tangerang. Total 25 orang ditangkap polisi dalam penggerebekan ini, serta mengamankan berbagai senjata tajam dan alat lainnya.
Mengakui Pembunuhan Sejak Usia 22 Tahun
John Kei pernah berbagi kisah dengan Andy Noya melalui saluran YouTube Kick Andy Show pada Jumat (12/4/2019). Ia mengakui sejak usia 22 tahun dirinya sudah mulai membunuh orang. Bahkan, sang Godfather of Jakarta ini menegaskan tidak ada penyesalan setelah menghilangkan nyawa orang lain. Menurut John Kei, dirinya yang saat itu justru merasa lebih hebat jika sudah berhasil membunuh orang.
Namun, John Kei menjelaskan jika dirinya tidak akan melukai orang lain jika orang tersebut tidak melukai dirinya. Saat Andy bertanya tentang alasan sang pembunuh sadis ini berubah, ia pun menceritakannya. Bermula saat John Kei ditempatkan di penjara khusus, di mana aktivitasnya terpantau oleh kamera dan ia dilarang berinteraksi dengan napi lainnya. Selama tiga bulan, ia harus menghadapi kondisi tersebut.
Setelah merenung, John Kei ingin mati masuk surga tidak neraka, hal ini membuat dirinya semakin rajin membaca alkitab. Ia menegaskan semua terserah pada semua orang menilai perubahan dirinya. “Orang mau ngomong apa itu urusan mereka tapi saya punya keyakinan dan saya yakin sampai mati saya melayani Tuhan,” tegas John Kei.
John Kei sudah mempersiapkan jika keluar tidak akan tergoda. “Kitab Injil Matius ayat 33 itu meyakinkan saya, kalau saya melayani Tuhan, Tuhan nggak mungkin lupa saya, Tuhan akan memberikan lebih dari yang aku butuhkan. Waktu yang akan membuktikan,” jelas John Kei.









Discussion about this post