Usaha Penjualan Pisang di Kota Tua Gorontalo yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Di sudut kota yang penuh sejarah, yaitu Kota Tua Gorontalo, terdapat sebuah lapak pisang sederhana yang menjadi sumber penghidupan bagi keluarga. Lapak ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, tetapi juga menjadi simbol ketekunan dan komitmen terhadap tradisi.
Lapak pisang milik keluarga Abdul Karim Pakaya masih eksis hingga kini. Pria berusia 34 tahun ini telah melanjutkan usaha turun-temurun milik mertuanya sejak sekitar enam tahun lalu. Ia menjaga penjualan buah lokal dari pagi hingga malam hari setiap harinya. Dengan menjalani tugas tersebut, Abdul Karim memastikan bahwa usaha keluarganya tetap berjalan lancar meski menghadapi tantangan seperti risiko kerugian akibat stok buah yang cepat matang.
Lokasi lapak pisang ini sangat strategis, berada di kawasan Kota Tua Gorontalo yang merupakan salah satu kawasan bersejarah tertua di Sulawesi. Kawasan ini diperkirakan sudah ada sejak 400 tahun lalu dan memiliki bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur kolonial Belanda atau Indies. Dahulu, kawasan ini menjadi pusat perdagangan dan kerajaan sebelum akhirnya menjadi pusat pemerintahan Kolonial.
Lapak Abdul Karim berada di titik penting, dekat jembatan perbatasan antara Kecamatan Kota Selatan dan Hulonthalangi. Ia mulai aktif berjualan sejak 2019 dan kini bertanggung jawab menjaga lapak dari siang hingga malam hari. “Kalau pagi sampai siang dijaga orang tua, saya lanjutkan siang sampai malam, nanti malam dilanjutkan ipar,” ujarnya.
Lapak tersebut buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 23.00 Wita, memberikan kesempatan lebih luas bagi pelanggan untuk berbelanja. Berbagai jenis pisang dijual, termasuk Pisang Goroho (Musa acuminata, sp), Pisang Raja (Musa paradisiaca L.), dan Pisang Sepatau atau dikenal sebagai Pagata oleh warga lokal Gorontalo. Selain itu, tersedia pula buah lokal lainnya seperti buah Naga, Pepaya, dan Alpukat.
Untuk memenuhi kebutuhan stok, Abdul Karim mengambil pasokan dari penampung yang mendatangkan buah dari daerah Paguyaman dan sekitarnya. Harga jual bervariasi, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp30 ribu tergantung jenis dan ukuran buah. Pembelian dapat dilakukan per sisir maupun per tandan.
Sistem pembayaran kepada pemasok dilakukan dengan sistem kepercayaan. Pembayaran biasanya dilakukan setelah barang terjual atau saat dana telah tersedia. “Sudah lama kerja sama, jadi saling percaya,” katanya.
Dari sisi keuntungan, usaha ini mampu menghasilkan laba bersih sekitar 30 persen dari omzet. Namun, risiko kerugian tetap ada jika stok buah terlalu banyak dan tidak segera terjual. “Kalau terlalu banyak stok, buah bisa cepat matang dan akhirnya busuk,” jelasnya.
Meski demikian, Abdul Karim tetap optimistis usaha ini akan terus berkembang. Ia berharap jumlah pembeli semakin meningkat dan perputaran uang semakin lancar ke depannya. “Ini usaha yang paling menjanjikan bagi kami, jadi tetap kami jalankan,” tutupnya.










Discussion about this post