Penunjukan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan disebut menjadi petunjuk penting untuk membaca arah perombakan kabinet Presiden Prabowo Subianto. Peneliti senior Citra Institute, Efriza, menilai keputusan itu tidak bisa langsung dimaknai sebagai upaya Prabowo menjauh dari figur-figur yang selama ini dikaitkan dengan Presiden Joko Widodo.
Menurut Efriza, perpindahan Listyo dari jabatan Kapolri ke KSP justru menunjukkan bahwa orang yang pernah berada dekat dengan Jokowi belum tentu disingkirkan dari lingkar kekuasaan. Ia menekankan, posisi baru tersebut tetap berada di jalur strategis karena bersentuhan langsung dengan kerja presiden dan pengendalian agenda pemerintahan.
“Penempatan Listyo sebagai KSP membuat narasi bahwa Prabowo sedang membersihkan orang-orang Jokowi tidak bisa dibaca secara sederhana,” kata Efriza. Ia menambahkan, perubahan jabatan itu tidak identik dengan keluarnya Listyo dari struktur penting negara, melainkan penempatan ulang di posisi yang tetap krusial.
Efriza menilai Prabowo tampak mengutamakan kebutuhan pemerintahan ketimbang sekadar melihat rekam jejak kedekatan politik. Dalam pandangannya, Presiden ke-8 RI itu memilih pembantu yang dianggap masih dibutuhkan untuk mendukung jalannya pemerintahan, terutama pada sektor yang memerlukan koordinasi kuat dan stabilitas kerja.
Ia juga menyoroti modal pengalaman Listyo di bidang keamanan serta kemampuannya membangun koordinasi antarlembaga. Dua hal itu, kata Efriza, bisa menjadi alasan mengapa Listyo dipilih mengisi jabatan Kepala Staf Kepresidenan, sebuah posisi yang berperan dalam mengawal program dan arahan strategis Presiden.
Karena itu, Efriza melihat reshuffle kali ini lebih mencerminkan proses seleksi berbasis fungsi daripada pemutusan total atas figur-figur yang diasosiasikan dengan pemerintahan sebelumnya. Ia menilai Prabowo sedang menyusun komposisi kerja berdasarkan siapa yang masih relevan dan efektif untuk kebutuhan kabinet saat ini.
“Ukuran yang digunakan tampaknya lebih pragmatis: siapa yang masih dibutuhkan dan mampu bekerja dalam konfigurasi pemerintahan sekarang,” tutur Efriza. Menurut dia, jika benar ada keinginan memutus seluruh jejaring yang dikaitkan dengan Jokowi, maka penempatan Listyo di KSP justru menjadi langkah yang harus dijelaskan lebih jauh.








Discussion about this post