Renungan Katolik Hari Ini: “Dari Mana Kuasa Yesus?”
Renungan Katolik hari ini mengangkat tema penting yang relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam Injil Markus (11:27-33), para imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua datang kepada Yesus dengan pertanyaan: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Pertanyaan ini muncul karena Yesus mengusir para pedagang di halaman Bait Allah. Perbuatan ini tidak hanya mengganggu kewibawaan mereka, tetapi juga berdampak pada pundi-pundi keuangan mereka.
Bacaan Liturgi
Bacaan pertama dari kitab Yudis (Yud. 1:20b-25) mengajarkan pentingnya iman dan doa dalam Roh Kudus. Bagi mereka yang ragu-ragu, kita harus menunjukkan belas kasihan dan membantu mereka keluar dari api kesesatan. Selain itu, bacaan ini juga mengingatkan kita untuk menjaga diri dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan.
Mazmur Tanggapan (Mzm. 63:2,3-4,5-6) mengungkapkan rasa ingin melihat kekuatan dan kemuliaan Tuhan. Kasih setia-Nya lebih baik daripada hidup, dan kita diundang untuk memuji-Nya seumur hidup.
Bacaan Injil (Mrk. 11:27-33) menyampaikan cerita tentang Yesus yang ditanyai oleh para pemimpin agama tentang kuasa-Nya. Mereka tidak ingin mengakui kebenaran, tetapi justru ingin menjebak-Nya. Namun, Yesus menjawab dengan bijaksana dan keteguhan hati, menunjukkan bahwa kuasa-Nya berasal dari Allah Bapa.
Refleksi Renungan
Kuasa Yesus bukan berasal dari jabatan duniawi, kekayaan, atau popularitas. Kuasa-Nya berasal dari Allah dan digunakan untuk menyelamatkan, mengampuni, serta membawa orang kembali kepada-Nya. Situasi ini sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Di tengah masyarakat, sering kali orang menilai seseorang dari jabatan, gelar, kekayaan, atau jumlah pengikutnya.
Dalam lingkungan kerja, pelayanan, atau media sosial, orang mudah mencari pengakuan dan ingin terlihat paling berkuasa. Tidak sedikit pula orang yang mempertanyakan kebaikan orang lain dengan sinis. Kadang kita juga mengalami situasi ketika melakukan yang benar justru dipertanyakan atau ditolak.
Injil ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: Dari mana sumber kekuatan hidupku? Jika kekuatan kita hanya berasal dari pujian manusia, kita akan mudah kecewa. Jika berasal dari jabatan, kita akan goyah saat kehilangan posisi. Tapi jika hidup kita bersumber dari Tuhan, kita akan tetap teguh meskipun tidak dihargai.
Yesus mengajarkan bahwa kuasa sejati lahir dari kedekatan dengan Allah dan ketulusan hati untuk melakukan kehendak-Nya. Orang yang dekat dengan Tuhan tidak perlu sibuk membuktikan diri. Kehadirannya sendiri sudah membawa damai, harapan, dan kasih.
Refleksi Pribadi
Apakah saya menggunakan pengaruh dan kemampuan saya untuk melayani atau untuk mencari penghargaan? Saat kebaikan saya dipertanyakan, apakah saya tetap setia melakukan yang benar? Apakah hidup saya sungguh bersumber pada Tuhan?
Doa
Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk tidak mencari kuasa demi diri sendiri. Bentuklah hatiku agar seperti Engkau: rendah hati, bijaksana, dan setia pada kehendak Bapa. Semoga dalam tugas dan hidup sehari-hari, aku mampu memakai setiap kemampuan yang kumiliki untuk melayani dan membawa kasih-Mu kepada sesama. Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Sabtu. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus…Amin.










Discussion about this post