Kehidupan Masyarakat Adat Papua dalam Film Dokumenter Pesta Babi
Yerry Basri, seorang aktivis Papua, menyampaikan pernyataan bahwa film dokumenter Pesta Babi bukanlah karya yang bermuatan politik, melainkan sebuah upaya untuk menampilkan kehidupan masyarakat adat Papua serta hubungan mereka dengan tanah dan hutan leluhur. Pernyataan ini disampaikan kepada media di Jayapura, pada Kamis (14/5/2026), menyusul penolakan terhadap pemutaran perdana film tersebut di Ternate beberapa waktu lalu.
Menurut Yerry, film Pesta Babi menjadi ruang edukasi publik untuk memahami realitas kehidupan masyarakat Papua selama ini. Ia menjelaskan bahwa film ini menggambarkan bagaimana masyarakat adat hidup berdampingan dengan alam dan menjaga tanah adat mereka.
“Film Pesta Babi ini bukan politik. Ini cerita tentang kehidupan orang Papua, tentang tanah leluhur, hutan, budaya, dan kehidupan masyarakat adat,” ujarnya.
Ia merasa heran dengan adanya upaya penghentian pemutaran film tersebut oleh sejumlah oknum saat acara berlangsung. Menurutnya, film dokumenter merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dan sarana menyampaikan realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kenapa harus dihentikan? Film ini tidak mengandung ajakan politik ataupun provokasi. Ini hanya dokumenter yang menggambarkan kenyataan masyarakat Papua,” katanya.
Film Pesta Babi mengangkat isu tentang tanah adat yang semakin tergerus akibat masuknya proyek besar di Papua. Dalam film tersebut, masyarakat adat digambarkan menghadapi tekanan karena harus menyerahkan tanah mereka demi pembangunan perkebunan maupun proyek strategis nasional (PSN).
“Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat adat kehilangan ruang hidup mereka. Tanah diwariskan turun-temurun mulai berubah karena investasi besar masuk,” jelasnya.
Yerry menilai, publik Indonesia perlu mengetahui bahwa Papua bukan wilayah kosong tanpa penghuni, melainkan tanah yang memiliki sejarah panjang dan masyarakat adat hidup menjaga alam sejak dahulu.
“Papua bukan tanah kosong. Ada manusia yang hidup di sana, ada budaya dijaga, ada hutan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai aktivis Papua, Yerry mendukung agar film dokumenter tersebut dapat diputar lebih luas di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang menonton, maka semakin besar pula pemahaman publik terhadap kondisi masyarakat adat di Papua.
“Saya mendukung penuh film ini diputar di mana-mana supaya masyarakat Indonesia tahu tentang kehidupan orang Papua yang sebenarnya,” kata Yerry.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk menghormati karya-karya dokumenter yang mengangkat isu kemanusiaan, lingkungan hidup, dan hak masyarakat adat.
“Kalau ada perbedaan pandangan, mari dibicarakan dengan baik. Jangan langsung membatasi ruang diskusi atau melarang pemutaran film,” pungkasnya.
Isu Tanah Adat dan Pembangunan di Papua
Film Pesta Babi mengangkat isu penting terkait tanah adat masyarakat Papua yang semakin terancam oleh proyek-proyek besar. Dalam film tersebut, para anggota masyarakat adat digambarkan menghadapi tekanan untuk menyerahkan tanah warisan leluhur mereka guna mendukung pembangunan perkebunan atau proyek strategis nasional.
Ini mencerminkan konflik antara kebutuhan pembangunan dan perlindungan hak masyarakat adat. Film ini memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat adat mengalami perubahan drastis dalam kehidupan mereka akibat intervensi eksternal.
Peran Film Dokumenter dalam Edukasi Masyarakat
Film dokumenter seperti Pesta Babi memiliki peran penting dalam memperluas pemahaman masyarakat tentang realitas kehidupan masyarakat adat. Melalui karya-karya semacam ini, masyarakat umum dapat belajar tentang sejarah, budaya, dan tantangan yang dihadapi masyarakat adat.
- Beberapa film dokumenter telah menjadi alat edukasi yang efektif dalam membuka wawasan masyarakat tentang isu-isu lokal.
- Film-film ini sering kali mengangkat isu-isu yang kurang diperhatikan oleh media massa.
- Mereka membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberagaman budaya dan lingkungan.
Pentingnya Kebebasan Berekspresi
Yerry Basri menekankan bahwa kebebasan berekspresi adalah hak dasar setiap individu. Ia menilai bahwa film dokumenter adalah salah satu bentuk ekspresi yang penting untuk menyampaikan realitas sosial yang sering kali terabaikan.
- Kebebasan berekspresi memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan informasi secara bebas.
- Ini juga menjadi alat untuk membangun dialog dan pemahaman antar komunitas.
- Larangan terhadap pemutaran film dapat menghambat proses edukasi dan dialog yang penting.
Kesimpulan
Film Pesta Babi tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga menjadi alat edukasi yang penting bagi masyarakat Indonesia. Melalui film ini, kita dapat memahami lebih dalam tentang kehidupan masyarakat adat Papua dan tantangan yang mereka hadapi.










Discussion about this post