Mantan anggota fromis_9, Jisun, mengisahkan periode berat yang ia alami ketika penghasilannya sebagai idol K-Pop mulai tidak stabil. Dalam situasi itu, ia kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sempat bergantung pada pinjaman kartu kredit, yang justru membuat urusan keuangannya semakin rumit. Cerita tersebut ia sampaikan dalam video di kanal YouTube Min Saerom’s Open Studio yang tayang pada 11 Oktober.
Jisun menjelaskan bahwa setelah meninggalkan aktivitas grup dan berupaya membangun karier sendiri, pekerjaan yang ia dapatkan tak lagi sebanyak sebelumnya. Kondisi itu membuat arus masuk uangnya mengecil, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan. Ia menyebut statusnya sebagai pekerja lepas di dunia hiburan juga menyulitkan saat mencoba mencari bantuan pinjaman dari lembaga keuangan.
Ia sempat mengajukan pinjaman ke bank dan juga lewat aplikasi pinjaman seluler, tetapi permohonannya ditolak. Menurut Jisun, sumber penghasilan yang tidak tetap menjadi alasan utama pengajuan itu tidak disetujui. Dalam menceritakan masa tersebut, ia menegaskan bahwa dirinya tetap harus bertahan hidup meski kondisi finansial sedang tertekan.
Karena tak punya banyak pilihan, Jisun akhirnya menggunakan kartu kredit sebagai jalan keluar sementara. Saat itu, ia mengira dana yang diterimanya bisa menutup kebutuhan selama beberapa bulan. Ia bahkan mengaku sempat mendengar bahwa ia akan mendapat 3 juta won sekaligus, sehingga memperkirakan uang itu cukup untuk bertahan tiga atau empat bulan.
Namun, kenyataan berjalan sebaliknya. Kebutuhan harian terus muncul, sementara utang lama belum sempat lunas. Untuk menutup tagihan sebelumnya, Jisun kembali meminjam dana. Pola itu berulang setiap kali batas kartu kreditnya bertambah, sehingga beban utangnya makin menumpuk dan semakin sulit dikendalikan.
Ia mengatakan butuh waktu sekitar satu tahun untuk benar-benar menyelesaikan kewajiban tersebut. Dalam proses itu, kakak laki-lakinya ikut membantu dengan meminjamkan uang, meski saat itu sang kakak tengah mempersiapkan pernikahan. Bantuan itu kemudian dipakai Jisun untuk melunasi pinjaman kartu kredit sekaligus memperbaiki skor kreditnya.
Pengalaman tersebut membuat Jisun menilai utang kartu kredit sebagai pelajaran pahit dalam hidupnya. Ia kini mengingatkan orang lain agar berhati-hati sebelum memilih cara serupa untuk menutup kebutuhan rutin. Baginya, pinjaman seperti itu bisa berubah menjadi beban yang berat jika tidak disertai rencana pembayaran yang jelas dan pemasukan yang benar-benar stabil.










Discussion about this post