Radja Nainggolan kembali menoleh ke masa lalu dengan nada penyesalan. Mantan gelandang AS Roma dan Inter Milan itu mengaku seharusnya ia bisa memilih membela Timnas Indonesia, bukan Timnas Belgia, dan menilai peluang itu mungkin saja membuka jalan untuk karier internasional yang panjang. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam wawancara dengan media Belgia, Nieuwsblad, setelah pengalaman bermain di Indonesia mengubah cara pandangnya terhadap sepak bola dan kehidupan di Tanah Air.
Nainggolan, yang kini berusia 38 tahun, mengatakan bahwa dulu Indonesia bukan negara yang benar-benar ia kenal. Ia tumbuh di Linkeroever, Belgia, dan hubungan dengan ayahnya, Marianus, yang meninggalkan keluarga saat ia masih kecil, membuatnya tidak dekat dengan akar keluarganya di Indonesia. Karena itu, ketika memulai kiprah internasional bersama Belgia pada 2009, ia sama sekali tidak menimbang opsi lain. Menurut dia, budaya Indonesia belum masuk ke dalam kehidupannya saat itu.
Persepsi itu mulai bergeser setelah kunjungan pertamanya ke Indonesia pada 2013. Saat itu ia datang untuk tur selama dua pekan, mengunjungi beberapa pulau, melatih anak-anak, dan mengikuti sejumlah kegiatan. Dari perjalanan tersebut, ia mulai mengenal masyarakat, budaya, serta besarnya perhatian publik terhadap dirinya karena nama keluarganya memiliki kaitan dengan Sumatera Utara. Namun, pada periode itu kariernya bersama Belgia sudah terlanjur berjalan sehingga ia tidak mengambil langkah untuk pindah kewarganegaraan sepak bola.
Pandangan Nainggolan terhadap Indonesia berubah lebih jauh saat memperkuat Bhayangkara FC pada 2023-2024. Setelah masa bermainnya di SPAL berakhir, ia sempat berpikir untuk berhenti dari sepak bola. Undangan untuk menjadi duta Piala Dunia U17 membawanya kembali ke Indonesia, dan dari situlah tawaran bermain selama sekitar enam bulan datang. Ia menerima kesempatan itu dan menghabiskan waktu di Jakarta, sambil merasakan langsung ritme hidup masyarakat setempat.
Dalam pengalamannya di Indonesia, Nainggolan mengaku terkesan bukan hanya oleh sepak bola, tetapi juga oleh kehidupan sehari-hari. Ia menyebut keramahan warga, makanan lokal, cuaca, dan interaksi sosial sebagai hal yang membuatnya betah. Ia bahkan menyinggung betapa murahnya biaya makan di Indonesia dibandingkan penghasilannya kala itu. Selain itu, ia juga pernah mengalami gempa bumi, pengalaman yang ikut meninggalkan kesan mendalam selama tinggal di Tanah Air.
Hal yang paling membuatnya kagum adalah antusiasme suporter sepak bola Indonesia. Nainggolan melihat dukungan besar untuk Timnas Indonesia saat menghadapi negara seperti Vietnam dan Irak, dan menurutnya atmosfer seperti itu sulit ditemui di banyak tempat lain. Karena pengalaman itu, ia kini merasa ada kesempatan besar yang dulu tidak pernah ia pertimbangkan. “Saya bisa saja memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain internasional Indonesia,” ujarnya. Nainggolan pun mengaku rindu Indonesia dan ingin kembali berkunjung.










Discussion about this post