JAKARTA — Operasi tambang nikel PT Weda Bay Nickel (WBN) di Halmahera Tengah, Maluku Utara diproyeksikan berhenti sementara mulai pertengahan Mei 2026. Proyeksi ini dilakukan karena kuota produksi nikel yang diberikan pemerintah untuk tahun ini telah habis.
Induk perusahaan WBN, Eramet, mengungkapkan bahwa Perseroan hanya memiliki rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) awal sebesar 12 juta wet metric ton (Mwmt) bijih nikel untuk 2026. Kuota tersebut diperkirakan akan tercapai pada pertengahan Mei.
“Produksi berdasarkan RKAB awal 12 Mwmt akan tercapai pada pertengahan Mei sehingga tambang bersiap untuk masuk fase care and maintenance sambil menunggu revisi izin,” demikian pernyataan manajemen dalam laporan kinerja kuartal I/2026.
Kondisi ini memaksa WBN menghentikan sementara aktivitas penambangan dan penjualan bijih nikel, setidaknya hingga pemerintah menyetujui revisi kenaikan kuota produksi. Penghentian sementara tambang berpotensi berdampak langsung pada pasokan bahan baku ke kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), yang selama ini menjadi konsumen utama bijih nikel WBN.
Selama masa penghentian, WBN akan menghentikan operasi komersial dengan IWIP. Meski demikian, pabrik nickel pig iron (NPI) yang berada dalam skema joint venture tetap beroperasi dengan memanfaatkan stok bijih yang tersedia. Menurut manajemen, langkah ini menjadi kompromi jangka pendek untuk menjaga kesinambungan produksi hilir, meskipun aktivitas di hulu terhenti.
Eramet menyatakan akan berupaya meminimalkan dampak sosial dari penghentian sementara ini, termasuk terhadap pekerja, kontraktor, dan masyarakat sekitar tambang.
Kuota Seret, Operasi Terhenti
Pembatasan kuota produksi nikel merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang memperketat izin tambang guna menyeimbangkan pasokan dan harga nikel global. RKAB 2026 untuk WBN bahkan turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, WBN sempat memperoleh kuota hingga 42 Mwmt setelah revisi, sementara pada 2026 hanya 12 Mwmt. Angka ini turun lebih dari 70%.
Akibatnya, meski kinerja penjualan melonjak pada awal tahun, ruang produksi menjadi sangat terbatas. Pada kuartal I/2026, penjualan eksternal bijih nikel WBN mencapai 8,3 Mwmt, naik 54% secara tahunan. Lonjakan ini didorong oleh tingginya permintaan dan harga, serta terbatasnya pasokan bijih nikel domestik. Namun, percepatan penjualan tersebut justru mempercepat habisnya kuota produksi.
Saat ini, WBN tengah mengajukan revisi peningkatan kuota produksi kepada pemerintah. Perusahaan berharap revisi tersebut dapat mengakomodasi kapasitas produksi tambang sekaligus memenuhi kebutuhan bijih yang terus meningkat dari kawasan industri. Permintaan bijih dari IWIP diperkirakan melampaui 100 Mwmt per tahun, jauh di atas kuota yang saat ini diizinkan.
“Permohonan revisi atas RKAB awal yang diperoleh untuk tahun 2026 saat ini sedang diajukan kepada otoritas terkait. Permohonan ini telah dimulai melalui proses normal dan konsisten dengan kapasitas produksi tambang dan tingkat yang diizinkan pada tahun-tahun sebelumnya,” kata manajemen.









Discussion about this post