Langkah Progresif Kementerian Sosial dalam Memperluas Akses Pendidikan
Kementerian Sosial (Kemensos) dianggap telah melakukan langkah progresif dalam mencari calon peserta didik Sekolah Rakyat dari wilayah jalanan dan pasar di Pejompongan, Jakarta Pusat. Upaya ini dinilai penting untuk memperluas akses pendidikan bagi kelompok rentan, terutama anak-anak yang tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah.
Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat 77 anak yang teridentifikasi sebagai calon peserta didik untuk tahun ajaran 2026/2027. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 anak merupakan anak jalanan yang tidak bersekolah dan bekerja di sektor informal. Ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan bagi anak jalanan masih menjadi tantangan serius yang perlu segera diatasi.
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Atalia Praratya, menyampaikan apresiasi atas pendekatan proaktif Kemensos melalui penjangkauan langsung ke lapangan. Menurutnya, inisiatif ini adalah terobosan penting yang dapat melengkapi mekanisme berbasis data seperti Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Namun, ia menilai pendekatan ini perlu diperkuat dengan sistem yang lebih komprehensif agar tidak bersifat sesaat atau parsial.
“Langkah jemput bola ke titik-titik anak jalanan adalah bentuk kehadiran negara yang nyata. Tetapi, yang lebih penting adalah memastikan bahwa proses ini tidak berhenti pada pendataan dan rekrutmen awal, melainkan berlanjut pada pendampingan yang berkelanjutan,” ujar Atalia dalam keterangannya pada Sabtu (25/4/2026).
Secara nasional, data menunjukkan bahwa angka anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia masih menjadi tantangan serius. Dari data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, jumlah ATS masih mencapai ratusan ribu anak usia sekolah, dengan konsentrasi tinggi di wilayah perkotaan padat dan kantong-kantong kemiskinan. Anak jalanan menjadi kelompok paling rentan karena menghadapi hambatan multidimensi: ekonomi, sosial, hingga perlindungan.
Dalam konteks ini, Atalia memberi beberapa rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas program Sekolah Rakyat. Berikut adalah beberapa rekomendasi utamanya:
-
Integrasi data dan validasi lapangan harus diperkuat
Pendekatan kombinasi antara DTSEN dan verifikasi lapangan perlu standar operasional jelas agar tidak terjadi bias atau eksklusi data. Validasi harus melibatkan pemerintah daerah, RT/RW, serta pekerja sosial yang memahami kondisi riil anak. -
Pendekatan berbasis keluarga menjadi kunci
Banyak anak jalanan bekerja bukan semata pilihan, tetapi karena tekanan ekonomi keluarga. Sehingga intervensi tidak cukup hanya pada anak, tetapi juga harus menyasar keluarga melalui bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi pengasuhan. -
Jaminan keberlanjutan pendidikan dan adaptasi sosial
Masuk ke Sekolah Rakyat bukan akhir dari proses, melainkan awal dari perjalanan panjang. Anak-anak dengan latar belakang jalanan membutuhkan pendampingan psikososial, penguatan karakter, serta kurikulum yang adaptif agar tidak mengalami dropout kembali. -
Kolaborasi lintas sektor diperlukan
Penanganan anak jalanan tidak bisa dilakukan satu kementerian saja. Atalia mendorong sinergi antara Kemensos, Kemendikdasmen, pemerintah daerah, serta organisasi masyarakat sipil.

Sejumlah santri punk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah di Pondok Tasawuf Underground, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten (7/4/2023). Pada bulan suci Ramadan kali ini Pondok Tasawuf Underground mengadakan kegiatan pesantren kilat yang melibatkan sejumlah anak punk maupun anak jalanan dengan kegiatan berupa pengajian, tausiyah, zikir, shalat dan hidroterapi (Inabah Suryalaya). – (/Putra M. Akbar)
Atalia juga menekankan bahwa keberhasilan program ini harus diukur tidak hanya dari jumlah anak yang terjaring, melainkan dari berapa banyak yang mampu bertahan, berkembang, dan keluar dari siklus kerentanan. Ia mengingatkan setiap anak Indonesia berhak atas pendidikan layak sesuai amanat konstitusi.
“Negara harus hadir tidak hanya untuk menemukan mereka yang tertinggal, tetapi juga memastikan mereka dapat melangkah maju dengan martabat dan masa depan yang lebih baik,” ujar Atalia.









Discussion about this post