Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengambil langkah tegas dalam mencegah kecurangan selama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) tahun 2026. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan memutus jaringan komunikasi di sekitar lokasi ujian. Unnes menjadi salah satu kampus yang ditunjuk sebagai pusat pelaksanaan UTBK 2026, sehingga pihak universitas harus memastikan proses ujian berjalan dengan transparan dan adil.
Kepala Hubungan Masyarakat Unnes, Surahmat, menjelaskan bahwa pemutusan jaringan komunikasi dilakukan untuk mencegah peserta ujian berkomunikasi dengan pihak luar yang berniat melakukan kecurangan. Untuk melaksanakan hal ini, pihak universitas menggunakan alat jammer sinyal internet. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk meminimalkan praktik kecurangan selama ujian.
“Kami berupaya seminimal mungkin terjadi kecurangan karena bekerja sama dengan pengawasan pemerintah,” kata Surahmat dalam keterangannya, dikutip pada Ahad, 26 April 2026.
Selain itu, Unnes juga menerapkan pengawasan berlapis selama UTBK. Peserta ujian dilarang membawa alat bantu apapun ke ruang ujian. Untuk memastikan hal ini, pihak universitas menggunakan metal detector agar tidak ada perangkat mencurigakan yang dibawa oleh peserta.
Surahmat juga menyampaikan bahwa Unnes memberlakukan toleransi keterlambatan sesuai aturan yang ditetapkan panitia pusat. Namun, jika peserta datang setelah ujian dimulai, maka peserta tersebut tidak diperkenankan mengikuti ujian dan otomatis dinyatakan gugur.
Di tempat lain, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), sistem yang digunakan berbeda namun tujuannya sama, yaitu mencegah kecurangan. UGM menerapkan sistem operasi khusus berbasis Linux yang dijalankan melalui media USB. Direktur Direktorat Teknologi Informasi UGM, Ridi Ferdiana, menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk mencegah penggunaan perangkat lunak jarak jauh yang sering dimanfaatkan untuk kecurangan.
“Lingkungan sistem yang tertutup ini membantu menjaga proses ujian tetap fokus dan aman dari intervensi luar,” ujar Ridi dalam keterangannya pada Selasa, 21 April 2026.
UGM juga mengoperasikan empat unit server untuk mendukung pelaksanaan UTBK 2026. Seluruh server telah melewati uji beban dan uji coba nasional. Selain itu, UGM menerapkan mekanisme failover dalam sistemnya, termasuk sistem pemantauan agar layanan tetap berjalan normal meski ada gangguan di salah satu server. Jika terjadi kendala di satu server, sistem akan langsung dialihkan ke server lain agar peserta tetap bisa melanjutkan ujian.
Dalam pelaksanaan UTBK 2026, panitia telah menemukan beberapa modus kecurangan. Misalnya, praktik joki yang ditemukan di berbagai titik tes UTBK seperti di Universitas Sulawesi Barat. Selain itu, panitia SNPMB 2026 menemukan adanya peserta yang membawa alat bantu. Salah satunya adalah penggunaan alat bantu dengar yang ditemukan di peserta UTBK di lokasi tes Universitas Diponegoro.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru 2026, Eduart Wolok, menjelaskan bahwa alat bantu dengar tersebut dipasang di lubang telinga peserta UTBK yang melakukan kecurangan. “Oleh panitia, peserta ini harus dibawa ke dokter THT untuk bisa melepas alat bantu itu,” ucapnya.









Discussion about this post