Tanggul PT MMI di Banjar Kembali Bocor, Air Bercampur Lumpur Cemari Sungai dan Lahan Warga
MARTAPURA – Kekhawatiran warga Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, kembali membayangi. Tanggul milik PT MMI yang berlokasi di Rantau Bakula dilaporkan kembali mengalami kebocoran pada Selasa, Juni 2026. Peristiwa ini sontak memicu meluapnya air bercampur lumpur ke lahan-lahan pertanian warga di sekitarnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, air keruh tersebut juga dilaporkan masuk ke aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan vital bagi masyarakat setempat.
Warga sekitar lokasi kejadian mengungkapkan keresahan mendalam akibat insiden ini. Sungai yang biasanya menjadi andalan untuk berbagai keperluan sehari-hari, mulai dari sumber air minum, mencuci pakaian, hingga mandi, kini terkontaminasi. “Warga mengambil air di sungai itu untuk keperluan sehari-hari,” keluh Mariadi, salah seorang warga setempat, pada Rabu, Juni 2026.
Masuknya air bercampur lumpur dari tanggul yang bocor membuat air sungai berubah warna menjadi hitam pekat dengan bercak putih akibat endapan lumpur. Kondisi ini jelas menghalangi warga untuk memanfaatkan air sungai dalam beberapa hari ke depan. “Warna air sungai jadi hitam bercampur putih karena terkotaminasi endapan lumpur tadi. Itu yang jelas yang dirasakan oleh warga,” tambah Mariadi, menggambarkan dampak langsung yang dialami.
Dampak Luas: Dari Sungai Hingga Lahan Pertanian
Bukan hanya ketersediaan air bersih yang terancam, bocornya tanggul PT MMI ini juga menimbulkan kerugian signifikan bagi sektor pertanian warga. Tanaman pangan yang ditanam di dekat bantaran sungai dilaporkan tertimbun lumpur. “Tanaman jahe, kencur, juga lombok tertimbun lumpur,” urai Mariadi, merinci jenis tanaman yang terdampak. Kerugian ini tentu saja menambah beban ekonomi bagi para petani yang bergantung pada hasil panen mereka.
Menanggapi insiden tersebut, pihak perusahaan PT MMI dilaporkan segera mengerahkan alat berat untuk melakukan perbaikan pada bagian tanggul yang jebol. Upaya penambalan ini diharapkan dapat mencegah kebocoran lebih lanjut dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Sejarah Kebocoran dan Respons Pemerintah
Mariadi mengungkapkan bahwa kasus jebolnya tanggul ini bukanlah kali pertama terjadi. Ia mencatat bahwa insiden serupa pernah terjadi pada tahun 2024, yang kala itu memicu protes dari warga yang menuntut ganti rugi.
Menyikapi situasi terkini, tim dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banjar dan perwakilan dari DLH Provinsi Kalimantan Selatan terlihat memantau langsung kondisi di lokasi. Laporan menyebutkan ada sekitar empat orang petugas yang diturunkan untuk melakukan investigasi dan pemantauan. Bahkan, mereka dilaporkan menginap di fasilitas PT MMI pada malam sebelumnya, di mana kebutuhan makan dan minum difasilitasi oleh perusahaan.
Upaya untuk mendapatkan konfirmasi langsung dari pihak PT MMI belum membuahkan hasil. Saat dihubungi melalui sambungan telepon dan WhatsApp, Yudha Ramon, salah satu Direktur PT MMI, belum memberikan tanggapan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPKPRLH) Banjar, Sutiyono, membenarkan keterlibatan timnya dalam pemantauan tersebut. Ia menyatakan bahwa tim DPKPLH Banjar turut memberikan dukungan kepada tim DLH Provinsi Kalsel dalam melakukan pemantauan di lokasi tanggul yang bocor. “Untuk hasilnya kami masih menunggu dari koordinasi dengan pihak Tim dari Dinas LH Kalsel,” ujar Plt Sutiyono, menekankan bahwa analisis dan langkah selanjutnya akan ditentukan setelah koordinasi dengan tim provinsi.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya pemeliharaan infrastruktur vital seperti tanggul dan perlunya pengawasan ketat terhadap perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah permukiman dan sumber daya alam. Harapan terbesar warga kini tertuju pada penanganan yang cepat dan tuntas, serta jaminan agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.








Discussion about this post