Kehidupan Nurhayati, Jemaah Haji yang Berjuang untuk Mewujudkan Impian
Di sebuah sudut hotel di kawasan Aziziyah, Makkah, di tengah keramaian jemaah yang tak pernah benar-benar sepi, Nurhayati (59) berdiri sambil bersandar di tembok. Sesekali ia mengusap matanya, menunjukkan rasa haru yang tersembunyi di balik kerudung hitamnya. Perempuan ini adalah jemaah haji asal Embarkasi Jakarta-Banten (JKB) yang telah melalui perjalanan panjang menuju Tanah Suci.
Nurhayati, yang sejak tahun 2005 mengajar anak-anak mengaji, tidak pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya akan membawanya sejauh ini. Dalam wawancara dengan tim Media Center Haji (MCH), ia menceritakan bagaimana keinginannya untuk berhaji mulai tumbuh dari hal-hal sederhana.
“Dulu itu cuma sering nganterin teman berangkat haji,” ujar Nurhayati dengan suara lirih. Setiap kali ada yang berangkat haji, ia ikut mengaji dan mendoakan. Namun dalam hatinya, keinginan untuk berhaji mulai tumbuh.
Seorang temannya pernah berkata sederhana, tapi sangat berkesan: “Kalau ingin berhaji, harus mulai menabung.” Kata-kata itu menjadi pengubah cara pandang Nurhayati. Awalnya, ia ragu karena merasa menabung berarti harus dalam jumlah besar. Sementara penghasilannya saat itu jauh dari cukup.
Ketika ia menyampaikan keinginannya kepada anaknya, sempat muncul pertanyaan yang menohok: “Memangnya ibu punya uang?” Nurhayati hanya menjawab pelan, “Ya berdoa, kak, nabung, sedikit demi sedikit, Rp50 ribu sampai Rp100 ribu.”
Langkah itu dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: membuka tabungan di bank dengan setoran awal Rp200 ribu. Saat menjelaskan niatnya kepada petugas bank, ia mendapatkan jawaban yang membuat hatinya hangat. “Nggak apa-apa, Ibu, nanti uangnya Allah yang nambahin,” kata si petugas menenangkan.
Hari-hari berikutnya diisi oleh kebiasaan yang tidak banyak diketahui orang. Setelah shalat subuh, ia berangkat menabung. Jumlahnya kecil, tapi dilakukan dengan rutin. Tahun demi tahun berlalu, hingga pada tahun 2013, tabungannya genap mencapai Rp23,5 juta, cukup untuk mendaftar haji dan mendapatkan nomor porsi.
Selama masa tunggu itu, ia tetap menabung. Hingga akhirnya, panggilan ke Baitullah datang juga setelah 12 tahun menanti. “Alhamdulillah, bener-bener barokah bisa sampai sini,” ucapnya dengan suara bergetar.
Saat menceritakan momen pertama kali melihat Ka’bah, matanya kembali berkaca-kaca. Ia bahkan sempat menahan napas, seolah mengulang kembali detik itu. “Bisa cium Ka’bah, Hajar Aswad, terus dijaga mutawwif-nya. Demi Allah, rasanya bersyukur banget, ya Allah, ya Allah,” katanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Air matanya jatuh lagi. Ia mengusapnya dengan kedua tangan. Di Madinah, ia juga merasakan kebahagiaan yang tak kalah dalam. Ia bisa masuk Raudhah hingga empat kali, sebuah kesempatan yang tidak semua jemaah dapatkan.
Nurhayati, yang pernah menjadi guru TK, mengatakan perjalanan ibadahnya tidak selalu mudah. Kakinya sempat sakit. Namun di tengah keterbatasan itu, ia hanya punya satu doa sederhana: tidak merepotkan orang lain.
“Saya berdoa jangan nyusahin orang lain di sini, Alhamdulillah Allah dengar doa saya,” kata dia. Nurhayati mengaku berangkat haji seorang diri. Oleh karena itu, saat di depan Ka’bah, ia berdoa agar bisa kembali lagi, tapi kali ini bersama suami dan anak-anak.
“Saya berdoa suatu hari nanti, suami dan anak-anak bisa umrah, bisa ngerasain tawaf, sai, menikmati kehidupan di Makkah, Madinah, dan masuk ke Raudhah,” pungkasnya.










Discussion about this post