Kehidupan Ratidjo: Dari Nol Hingga Menjadi Legenda Jamur di Yogyakarta
Ratidjo Hardjo Suwarno, seorang tokoh yang telah memperkenalkan jamur sebagai makanan utama di Yogyakarta, memiliki kisah sukses yang menginspirasi. Di usianya yang kini sudah menginjak 82 tahun, ia masih setia dengan passion-nya yaitu jamur. Jejamuran, rumah makan spesialis olahan jamur yang ia dirikan, kini menjadi ikon kuliner Jogja.
Awal Mula Perjalanan Bisnis
Pada awalnya, bisnis ini hanya dimulai dari satu meja kecil di pinggir jalan. Ketika ditemui di Resto Jejamuran yang berlokasi di Niron, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta, Ratidjo mengungkapkan pengalamannya merintis bisnis ini. Ia menyebut bahwa saat itu tidak ada bank yang menawarkan pinjaman. “Karena bisnisnya agro, risikonya tinggi,” ujarnya.
Dirinya pun memutar otak, dengan aset lahan seluas 131 meter dan modal pinjam sana-sini, memberanikan membuka Jejamuran. Meski pada awalnya sulit, akhirnya Jejamuran berkembang pesat dan dipercaya oleh BRI.
Cinta pada Jamur Sejak 1968
Perjalanan Ratidjo merawat jamur sudah dimulai sejak 1968. Ia belajar dari ahli asal Taiwan ketika komoditas ini belum populer di Indonesia. Pengalaman itu membawanya terlibat dalam industri jamur skala besar hingga akhirnya memilih kembali ke Yogyakarta dan membangun usaha sendiri dari nol.
Kunci bisnis jamur kata dia adalah mencintai dengan sepenuh hati. “Meskipun saya bukan sarjana pertanian, tetapi saya bisa ngomong sama jamur. Ternyata, mempelajari tanaman hidup tidak harus sekolah tinggi, kita hanya perlu melakukan dengan hati, dengan rasa,” katanya.

Langkah Besar 2006: Bangun Jejamuran dari Nol
Awalnya, Jejamuran hanyalah rumah makan kecil dengan satu meja kecil di pinggir jalan. Kala itu, pelanggannya pun sederhana: sopir truk dan petani yang pulang dari sawah. Namun dari kesederhanaan itulah, Ratidjo mulai memperkenalkan olahan jamur kepada masyarakat, bahkan dengan cara berkeliling dari pintu ke pintu untuk mengedukasi bahwa jamur bisa diolah, aman, dan lezat.
Tahun 2006 pun menjadi titik penting ketika Jejamuran resmi berdiri sebagai rumah makan. Awalnya, dia mendapat bantuan modal Rp200 juta dari BRI untuk membesarkan Jejamuran. “Awal usaha dibantu BRI, Jejamuran dibangun, semakin lama tamu semakin banyak, namun kursi kurang,” kenang dia.

Jejamuran Kini Jadi Destinasi Kuliner Wajib di Jogja
Meskipun terletak jauh dari pusat Kota Yogyakarta, Jejamuran saat ini sudah jadi destinasi kuliner di Yogyakarta. Bahkan, tak jarang pelanggan datang dari luar DIY. Salah satunya adalah Putri Ayuntari (36). Bersama sang suami dan kedua anaknya, tiap kali mudik dia menyempatkan diri mampir ke Jejamuran.
“Selalu mampir ke sini tiap mudik. Karena memang sulit ditemukan di daerah lain. Menunya juga enak-enak,” kata warga Sukoharjo ini. Dia mengaku sudah langganan Jejamuran semenjak kuliah di UGM dan ngekos di daerah Jalan Kaliurang. Jejamuran baginya bukan sekadar wisata kuliner, melainkan juga wisata nostalgia.
Untuk informasi, menu di Jejamuran ini cukup beragam. Ada tongseng jamur, sate jamur, king oyster lada hitam, jamur bakar, telur dadar shiratake, goreng tepung tiram, martabak risoles lumpia, sup jamur, dan banyak lagi lainnya.
Jejamuran buka pukul 10.00 WIB-22.00 WIB tiap Senin sampai Kamis. Lalu, pukul 09.00 WIB-21.00 WIB tiap akhir pekan. Di sini juga ada fasilitas meeting room dan pusat oleh-oleh bagi para pelancong.










Discussion about this post