klikkepri.com
No Result
View All Result
  • Login
SUBSCRIBE
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
No Result
View All Result
klikkepri.com
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
Home Internasional

Trump Kini Tidak Bisa Akhiri Perang dengan Iran, Presiden AS Bingung Tindakan Apa Lagi

Redaksi by Redaksi
14 Mei 2026 - 14:13
Reading Time: 3 mins read
0
Trump Kini Tidak Bisa Akhiri Perang dengan Iran, Presiden AS Bingung Tindakan Apa Lagi

Kehilangan Daya Tekan, Trump Dianggap Tidak Lagi Memiliki “Kartu” yang Kuat

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mulai kehilangan daya tekan terhadap Iran setelah upayanya memaksa Teheran menerima syarat perdamaian dari Washington disebut tidak membuahkan hasil. Sejumlah analis menilai posisi tawar Trump melemah karena Iran tetap menunjukkan perlawanan meski telah kehilangan banyak petinggi militernya.

Direktur Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, Mona Yacoubian, menyatakan bahwa Trump kini tidak memiliki banyak keuntungan strategis untuk menghadapi Iran. “Saya tidak melihat presiden memiliki banyak, jika memang ada, kartu bagus untuk dimainkan saat ini,” kata Yacoubian.

Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan bahwa langkah-langkah tekanan yang selama ini digunakan Washington belum mampu membuat Iran melunak. Sebaliknya, kondisi itu justru dinilai memperlihatkan keterbatasan opsi yang dimiliki Trump dalam menghadapi situasi geopolitik yang semakin rumit.

Iran Tetap Kuat Meski Terancam

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Iran tetap menunjukkan perlawanan meski telah kehilangan banyak petinggi militernya dalam konflik yang berlangsung. Dalam laporan AFP, Selasa (12/5/2026), Trump selama ini dikenal gemar menggunakan metafora “memegang kartu”. Ungkapan itu merujuk pada keyakinannya bahwa kekuatan Amerika Serikat serta kemampuan negosiasinya mampu membuat lawan tunduk.

Namun, dalam konflik dengan Iran, posisi tawar tersebut dinilai tidak lagi sekuat sebelumnya. Iran disebut masih mampu mempertahankan pengaruh dan daya tahannya meski mendapat tekanan besar dari Amerika Serikat maupun sekutunya. Kondisi inilah yang membuat sejumlah pengamat menilai konflik berpotensi berlangsung lebih panjang dan sulit diprediksi arah akhirnya.

Iran Membalas Serangan AS

Trump bergabung dengan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dengan cepat menewaskan pemimpin tertinggi lama Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat lainnya. Namun Iran segera membalas dengan memperkuat kontrol atas Selat Hormuz, jalur sempit yang sebelumnya dilalui seperlima perdagangan minyak dunia.

Iran juga meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara monarki Arab Teluk yang bersekutu dengan AS. Yacoubian mengatakan, Amerika Serikat memerlukan kekuatan sangat besar untuk memukul mundur Iran dari selat tersebut. Langkah itu, menurutnya, dapat memicu kekacauan baru di pasar global sekaligus meningkatkan ancaman terhadap negara-negara Teluk.

Ia juga menilai pemerintahan Trump salah membaca karakter rezim Iran. “Saya pikir pemerintahan ini pada dasarnya salah menilai karakter dan pendekatan rezim di Teheran,” ujarnya.

Trump Ingin Akhiri Perang

Trump sempat mengumumkan gencatan senjata pada 8 April dan terus memperpanjangnya tanpa batas waktu. Namun upaya negosiasi beberapa kali terganggu setelah Iran menolak hadir dalam perundingan yang direncanakan di Pakistan. Pekan lalu Trump juga mengumumkan “Project Freedom”, operasi untuk membantu kapal-kapal melintasi Selat Hormuz. Tetapi operasi itu ditangguhkan hanya dua hari kemudian setelah negara-negara Arab Teluk khawatir menjadi sasaran serangan baru.

Buy JNews
ADVERTISEMENT

Trump kemudian membangun ekspektasi publik terkait kemungkinan respons Iran, sebelum akhirnya menyebut proposal balasan dari Teheran sebagai sesuatu yang “sampah”.

Peneliti senior Middle East Institute Brian Katulis mengatakan, tindakan Trump menunjukkan bahwa pemimpin AS itu sangat ingin segera mengakhiri konflik. “Tindakan Trump selama sebulan terakhir menunjukkan seorang pemimpin yang sangat putus asa untuk mengakhiri konflik ini, tetapi ia terus mengancam konflik yang lebih besar jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya,” kata Katulis.

“Itu menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak tahu bagaimana mendapatkan kesepakatan yang lebih baik. Ia sebenarnya bisa mendapatkan kesepakatan yang lebih baik sebelum perang dimulai,” lanjutnya.

Posisi AS Melemah di Hadapan China

Konflik Iran juga dinilai memengaruhi posisi Amerika Serikat di tingkat global, terutama di hadapan China. Sebelum perang, Trump berulang kali menyebut China sebagai tantangan utama bagi AS. Namun menurut Katulis, Trump kini datang ke China dengan posisi yang jauh lebih lemah.

“Militer AS telah menghabiskan banyak persenjataan dan amunisi hanya dalam waktu 1,5 bulan, dan China mengetahui hal itu,” ujarnya. Trump dan para pejabat seniornya sebelumnya mengatakan, fase ofensif perang telah berakhir karena pemerintah membutuhkan persetujuan Kongres bila ingin melanjutkan operasi militer lebih jauh.

Meski begitu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancara dengan program 60 Minutes di CBS mengatakan, perang belum selesai karena masih ada kebutuhan merebut uranium dari program nuklir Iran yang diperselisihkan.

Jalan Keluar Hanya Melalui Negosiasi

Pakar kebijakan luar negeri dari American University, Garret Martin, mengatakan bahwa jalan keluar bagi Trump kemungkinan hanya melalui kesepakatan negosiasi. Menurut Martin, hasil akhirnya bahkan bisa lebih longgar dibanding kesepakatan nuklir tahun 2015 pada era Presiden Barack Obama yang dulu dikecam Trump sebagai “kesepakatan terburuk yang pernah ada”.

Martin menilai kekuatan militer Amerika Serikat saja tidak cukup untuk menghadapi Iran. “Tidak ada yang meragukan bahwa militer Amerika lebih kuat dibanding Iran,” kata Martin. “Namun itu tidak cukup ketika lawannya bertempur dalam konflik yang mereka anggap sebagai perang eksistensial.”

ShareTweetSend
Redaksi

Redaksi

Related Posts

Putin Tetapkan Zona Keamanan 660 Kilometer di Ukraina, Tak Masuk Meja Negosiasi
Internasional

Putin Tetapkan Zona Keamanan 660 Kilometer di Ukraina, Tak Masuk Meja Negosiasi

17 Oktober 2026 - 15:49
Ukraina Klaim Cegat Drone KVS Rusia dengan Desain Sayap Cincin
Internasional

Ukraina Klaim Cegat Drone KVS Rusia dengan Desain Sayap Cincin

17 Oktober 2026 - 04:20
Trump Prediksi Konflik dengan Iran Segera Usai, Harga Minyak Bisa Turun Drastis
Internasional

Trump Prediksi Konflik dengan Iran Segera Usai, Harga Minyak Bisa Turun Drastis

15 Oktober 2026 - 21:25
Houthi Mengaku Tembak Jet Tempur Arab Saudi di Langit Saada
Internasional

Houthi Mengaku Tembak Jet Tempur Arab Saudi di Langit Saada

15 Oktober 2026 - 20:32
IRGC Klaim Tanker Minyak Meledak setelah Menabrak Ranjau di Selat Hormuz
Internasional

IRGC Klaim Tanker Minyak Meledak setelah Menabrak Ranjau di Selat Hormuz

12 Oktober 2026 - 17:27
Trump Klaim Rusia-Ukraina Sepakat Hentikan Serangan Energi, Kyiv Minta Penjelasan
Internasional

Trump Klaim Rusia-Ukraina Sepakat Hentikan Serangan Energi, Kyiv Minta Penjelasan

12 Oktober 2026 - 09:30
Next Post
Kronologi Jawaban Regu B dan C Berbeda, Wakil Ketua MPR RI Minta Maaf

Kronologi Jawaban Regu B dan C Berbeda, Wakil Ketua MPR RI Minta Maaf

PPATK Menolak Klaim Kecolongan dalam Penangkapan Ratusan WNA Terkait Judi

PPATK Menolak Klaim Kecolongan dalam Penangkapan Ratusan WNA Terkait Judi

Discussion about this post

klikkepri.com

Klik Kepri Merupakan Portal Berita yang menyajikan informasi Indeks berita terkini dan terbaru hari ini dari peristiwa, kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia

Copyright© 2026 | Klikkepri.com

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Teknologi
  • Batam
  • Anambas
  • Bintan
  • Lingga
  • Natuna
  • Tanjung Pinang
  • Karimun
  • Disclamer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Subscription
  • Category
    • Lifestyle
    • Health
    • Travel
    • Opini
    • Tech
    • World
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

Copyright© 2026 | Klikkepri.com