Peringatan Iran terhadap AS atas Rencana Bantu Kapal di Selat Hormuz
Iran telah memberikan peringatan tajam kepada Amerika Serikat (AS) mengenai rencana pihak AS untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Menurut Ebrahim Azizi, kepala komite keamanan nasional parlemen Iran, setiap upaya AS untuk mengganggu lalu lintas maritim di wilayah tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Ia menulis di jejaring sosial X bahwa “Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan diatur oleh unggahan khayalan Trump.”
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan rencana operasi bernama “Project Freedom” untuk membantu kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz akibat konflik antara AS dan Iran. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyatakan bahwa negara-negara dari seluruh dunia yang kapalnya terjebak di jalur maritim tersebut meminta bantuan AS untuk membebaskan mereka. Ia menekankan bahwa langkah-langkah ini akan dimulai pada Senin pagi, waktu Timur Tengah.
Rencana Operasi AS untuk Membantu Kapal di Selat Hormuz
Rencana AS untuk “mengarahkan” kapal melalui Selat Hormuz masih menyisakan banyak pertanyaan tentang bagaimana hal itu akan berjalan. Menurut laporan Wall Street Journal, rencana Trump adalah mekanisme yang memungkinkan negara-negara, perusahaan asuransi, dan perusahaan pelayaran untuk mengoordinasikan navigasi di Selat Hormuz. Namun, rencana tersebut tidak mencakup pengawalan kapal-kapal komersial oleh kapal perang AS saat mereka melewati Selat Hormuz.
CNN melaporkan bahwa “Project Freedom” bukanlah misi untuk mengawal kapal yang melewati Selat Hormuz. Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan dukungan untuk operasi tersebut akan mencakup kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, serta platform tak berawak multi-domain.
Seorang peneliti dari Lowy Institute dan mantan perwira Angkatan Laut Australia, Jennifer Parker, memperkirakan militer AS akan meningkatkan kehadiran di sekitar Selat Hormuz untuk menjamin keamanan pelayaran. Ia menjelaskan bahwa langkah ini bukan sekadar perlindungan langsung terhadap kapal tertentu, tetapi upaya menciptakan rasa aman di seluruh kawasan. Ini bisa melibatkan pengerahan kapal perang dan pesawat patroli untuk mendeteksi serta menghadapi potensi ancaman terhadap kapal komersial.
Latar Belakang Konflik AS-Israel vs Iran
Konflik antara AS dan Iran memicu serangan besar-besaran pada 28 Februari, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dan digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Serangan ini terjadi dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa yang belum mencapai kesepakatan.
Iran menuduh AS dan Israel mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di beberapa negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, Iran menghentikan perundingan nuklir dan memblokade Selat Hormuz, yang menyebabkan lonjakan harga minyak dan memicu kekhawatiran krisis energi global.
Gencatan Senjata dan Perundingan yang Belum Berhasil
Memasuki hari ke-40 konflik, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan mulai 8 April, yang kemudian diperpanjang tanpa batas oleh Presiden Donald Trump. Namun, perundingan lanjutan pada 11 April di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan karena masih adanya persoalan penting yang belum terselesaikan.
Setelah kegagalan tersebut, AS melakukan blokade terhadap jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz. Pada 25 April, AS sempat berencana mengirim delegasi ke Islamabad untuk membuka kembali peluang negosiasi, tetapi Iran menolak dialog langsung, sehingga rencana kunjungan tersebut akhirnya dibatalkan.
Pihak Iran terus berkomunikasi dengan mediator, Pakistan, untuk menyampaikan posisinya dan tuntutan terhadap AS sebagai syarat mengakhiri perang. Pada 1 Mei, Iran menyampaikan proposal baru kepada AS melalui Pakistan.
Menurut laporan Axios pada 3 Mei, Amerika Serikat menyerahkan draf revisi lain untuk perjanjian mengakhiri perang. Tindakan ini diambil sebagai tanggapan terhadap proposal terbaru yang sebelumnya diajukan oleh Iran. Namun, publikasi tersebut tidak menyebutkan isi proposal AS atau amandemen yang dibuat terhadapnya.










Discussion about this post