China menolak ajakan Amerika Serikat untuk ikut dalam perundingan perlucutan senjata nuklir setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Washington sedang menjalin pembicaraan dengan Beijing dan Moskow. Sikap penolakan itu disampaikan pada Jumat, 16 Oktober 2026, dengan alasan utama bahwa permintaan tersebut tidak sebanding dan tidak mencerminkan realitas kemampuan nuklir masing-masing negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning, seperti dikutip media pemerintah Global Times, mengatakan kapasitas nuklir China berada pada level yang sangat berbeda dibanding AS dan Rusia. Ia menegaskan Beijing sudah berkali-kali menyampaikan posisi resminya mengenai isu ini. Menurut dia, justru AS yang memegang persenjataan nuklir dalam jumlah besar memiliki tanggung jawab paling besar untuk memulai langkah pengurangan senjata sesuai kesepakatan internasional.
Perbedaan kekuatan itu terlihat jelas dari data Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm atau SIPRI per Januari 2026. Lembaga tersebut memperkirakan China memiliki 620 hulu ledak nuklir, jauh di bawah AS yang tercatat 5.042, sementara Rusia berada di posisi teratas dengan 5.420 hulu ledak. Dengan komposisi itu, Washington dan Moskow menguasai sekitar 86 persen dari seluruh persenjataan nuklir dunia.
Ketimpangan tersebut menjadi alasan utama Beijing enggan bergabung dalam meja perundingan yang didorong AS. Bagi China, pembahasan perlucutan yang melibatkan tiga negara tidak bisa diperlakukan sama, karena skala arsenal mereka tidak setara. Rusia tetap menjadi pemilik hulu ledak terbanyak, disusul AS, sedangkan China berada di urutan ketiga.
Gagasan negosiasi ini mencuat setelah Trump mengklaim telah membuka pembicaraan dengan perwakilan China dan Rusia. Dalam wawancara dengan Newsmax, ia mengatakan sudah berdiskusi langsung dengan Presiden China Xi Jinping mengenai denuklirisasi, meski tidak menjelaskan hasil pembicaraan itu. Trump juga menegaskan Beijing belum bersedia melepas senjata nuklirnya, tetapi dialog akan terus dilanjutkan.
Pada keterangan lain yang dikutip Al Jazeera, Trump mengatakan kapasitas nuklir China diperkirakan akan menyamai AS dalam lima tahun ke depan. Ia menambahkan, “Semuanya memalukan karena saya ingin melakukan denuklirisasi jika memungkinkan. Kami sebenarnya sedang membicarakannya dengan Rusia, dan kami sedang membicarakannya dengan China tentang denuklirisasi itu,” ujarnya. Upaya diplomasi AS di bidang ini juga bergerak di tengah berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis atau START yang sebelumnya membatasi armada nuklir Washington dan Moskow. Setelah kesepakatan itu berakhir, Presiden Prancis Emmanuel Macron meluncurkan Inisiatif Pencegahan Maju untuk merespons ancaman nuklir Rusia terkait perang di Ukraina, sementara mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans mengingatkan bahwa kontrol senjata global makin rapuh dan hampir seluruh perjanjian besar kini berada dalam kondisi mati, sekarat, atau kritis.










Discussion about this post