Jakarta, 18 Oktober 2026 — Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai ada dua persoalan utama yang membuat Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia. Menurut dia, isu itu berkaitan dengan akuisisi saham Bayan yang dinilai tidak terbuka serta rencana Danantara masuk ke kepemilikan Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah demutualisasi. Keduanya, kata Bhima, memunculkan pertanyaan besar soal kredibilitas dan independensi pasar modal nasional.
Bhima menjelaskan, dugaan masalah pertama muncul dari transaksi akuisisi saham Bayan yang disebutnya tidak transparan dan diduga melibatkan kredit agunan saham di Bank Mandiri. Ia menilai situasi tersebut mengindikasikan adanya hubungan antar pelaku di bursa yang tidak terlihat jelas oleh publik. Kondisi semacam ini, menurutnya, bisa menjadi sinyal buruk bagi investor global yang menaruh perhatian besar pada keterbukaan transaksi dan kepastian tata kelola.
Faktor kedua yang disorot Celios adalah rencana Danantara membeli saham BEI setelah proses demutualisasi bursa. Bhima menilai langkah itu berpotensi menimbulkan persoalan independensi pengawasan karena pihak yang berperan sebagai pelaku pasar juga bisa memiliki pengaruh pada lembaga yang mengatur. “Pasti ada konflik kepentingan disitu. Pemain dan wasit jadi tercampur,” ujarnya. Ia menekankan, fungsi pengawas dan peserta pasar seharusnya tetap dipisahkan agar kepercayaan investor tidak terkikis.
Di luar dua isu tersebut, Bhima juga mengingatkan bahwa rencana Danantara menjadi penstabil pasar tidak otomatis memperkuat ekonomi riil. Menurut dia, investasi di pasar saham berbeda dengan investasi langsung yang berpotensi membangun pabrik, menyerap tenaga kerja, dan menciptakan efek berganda. Karena itu, ia menilai masuknya dana ke bursa tidak selalu berarti ada dorongan nyata bagi sektor produksi.
Bhima bahkan menyebut langkah itu bisa saja tidak menyentuh akar persoalan, yakni kepercayaan investor asing yang sedang melemah. Ia menilai keluarnya modal dari pasar saham Indonesia lebih banyak dipicu keraguan terhadap kredibilitas pasar, sehingga intervensi seperti Danantara belum tentu memperbaiki ekspektasi. Dalam pandangannya, persoalan mendasar justru harus dibenahi lebih dulu agar arus dana asing kembali masuk.
Bhima juga menyoroti turunnya bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index dari 1,16 persen menjadi 0,43 persen. Penurunan itu berarti porsi Indonesia menyusut sekitar 63 persen dan berpotensi menekan alokasi dana dari investor global yang menggunakan MSCI sebagai acuan. Ia menilai dampaknya bukan hanya terasa pada investor institusi dan pengelola dana pasif, tetapi juga dapat memengaruhi sentimen investor domestik ketika dana asing keluar dari pasar.
Karena itu, Bhima mendesak pemerintah dan otoritas pasar modal segera menuntaskan persoalan transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta penguatan bukti penegakan aturan. Menurut dia, pemulihan kepercayaan tidak bisa ditunda jika Indonesia ingin menghindari tekanan lanjutan setelah munculnya sinyal penurunan status dari MSCI.










Discussion about this post