Penemuan Bahan Peledak Pasca Ledakan di Biak Numfor: Evakuasi Korban Masih Berlangsung
Biak Numfor – Tim Penjinak Bom (Jibom) Gegana Brimob Polda Papua berhasil mengungkap temuan mengejutkan pasca insiden ledakan bom di Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor. Dalam upaya penyisiran awal di lokasi kejadian perkara (TKP), tim Jibom menemukan dua proyektil dan dua granat nanas yang telah dimodifikasi. Temuan ini menambah kompleksitas penanganan pasca ledakan yang diduga berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II.
Proyektil yang ditemukan memiliki ciri khas amunisi yang telah dikosongkan, dengan bekas gerinda yang terlihat jelas pada bagian luarnya. Keberadaan proyektil ini mengindikasikan bahwa area tersebut mungkin pernah menjadi lokasi aktivitas militer atau penyimpanan amunisi di masa lalu.
Selain proyektil, dua granat nanas yang dimodifikasi juga berhasil diamankan oleh tim Jibom. Granat nanas merupakan jenis senjata peledak yang umum digunakan dalam peperangan. Modifikasi yang dilakukan terhadap granat ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri mengenai potensi bahaya dan tingkat ledakan yang lebih tinggi.
Menyadari potensi bahaya yang ditimbulkan, salah satu dari dua granat modifikasi tersebut langsung dimusnahkan di tempat pada Senin, 1 Juni 2026, pukul 18.00 WIT, menggunakan metode disposal yang aman. Granat kedua direncanakan akan dimusnahkan pada hari berikutnya, Selasa, 2 Juni 2026. Tindakan pemusnahan ini merupakan langkah krusial untuk mencegah insiden lebih lanjut dan memastikan keamanan area sekitar.
Sterilisasi Lokasi dan Imbauan untuk Warga
Aparat keamanan menegaskan bahwa upaya penyisiran dan sterilisasi di lokasi kejadian akan terus dilanjutkan. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada lagi bahan peledak atau sisa-sisa berbahaya yang tertinggal di area tersebut. Proses ini membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian ekstra untuk menjamin keselamatan semua pihak.
Warga setempat juga diberikan imbauan penting untuk tidak mendekati lokasi kejadian selama proses penyisiran dan sterilisasi masih berlangsung. Kepatuhan terhadap imbauan ini sangat penting untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan dan kelancaran tugas tim gabungan.
Pergeseran Fokus Pencarian Korban ke Wilayah Perairan dan Pantai
Di sisi lain, upaya pencarian korban yang masih dinyatakan hilang terus dilakukan oleh tim gabungan. Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menjelaskan bahwa fokus operasi pencarian kini telah digeser ke area “ring dua”. Area ini mencakup wilayah perairan dan kawasan pantai yang berdekatan dengan titik ledakan utama.
Keputusan untuk menggeser fokus pencarian ini diambil karena area “ring satu”, yang merupakan pusat ledakan, dinilai masih sangat fluktuatif dan berpotensi membahayakan keselamatan petugas maupun masyarakat sipil. Dengan memprioritaskan area yang lebih aman, tim gabungan berharap dapat melanjutkan pencarian dengan lebih efektif.
Hingga berita ini diturunkan, masih terdapat tiga korban yang dilaporkan hilang. AKBP Ari Trestiawan menyampaikan perkembangan terbaru bahwa tim gabungan, dengan dukungan penuh dari personel Basarnas, telah berhasil menemukan 13 potongan tubuh di area “ring dua”.
“Tim gabungan terus melakukan penyisiran dan evakuasi korban yang belum ditemukan. Hari ini, dengan dibantu penuh oleh personel Basarnas, kami menemukan 13 serpihan atau potongan bagian tubuh korban di area ring dua,” ujar AKBP Ari Trestiawan dalam konferensi pers yang digelar di Posko Basarnas Biak pada Senin malam.
Seluruh potongan tubuh yang ditemukan telah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Biak untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut. Proses identifikasi ini krusial untuk mengkonfirmasi identitas para korban dan memberikan kepastian bagi keluarga yang menunggu.
Kronologi Singkat Insiden Ledakan
Ledakan besar yang menggemparkan Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, terjadi pada Minggu sore, 31 Mei 2026. Ledakan ini diduga kuat berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II yang tersimpan di area tersebut. Peristiwa tragis ini dilaporkan telah merenggut nyawa setidaknya lima orang. Seluruh jenazah korban yang telah teridentifikasi selanjutnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sorido, Distrik Biak Kota. Insiden ini menjadi pengingat akan bahaya sisa-sisa konflik masa lalu yang masih tersimpan di berbagai wilayah.










Discussion about this post