Tren Simpanan Masyarakat Kelas Menengah Bawah Mulai Membaik
Pada awal tahun 2026, tren simpanan masyarakat kelas menengah bawah mulai menunjukkan tanda perbaikan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan simpanan nominal pada rekening dengan saldo di bawah Rp 100 juta, yang mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), rata-rata simpanan masyarakat di bawah Rp 100 juta naik dari 3,6% pada Januari 2026 menjadi 4,4% pada Februari 2026. Perkembangan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memperhatikan pentingnya tabungan dalam menjaga stabilitas keuangan mereka.
Mega Ekaputri Pujianto, Head of Deposit Product Management PT Bank Mandiri Tbk, menyebutkan bahwa simpanan segmen menengah bawah mulai tumbuh sekitar 3% secara bulanan pada awal 2026. Perbaikan ini didorong oleh beberapa faktor, seperti meningkatnya daya beli dan aktivitas ekonomi yang lebih baik. Selain itu, pembayaran gaji dan musim tertentu juga turut berkontribusi dalam penguatan simpanan.
Namun, penggunaan tabungan masih terbatas pada kebutuhan konsumsi dan biaya hidup. Meski demikian, Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan simpanan akan bergerak positif secara bertahap sepanjang tahun ini, dengan kisaran di atas 8%. Namun, risiko dari dinamika ekonomi global dan domestik tetap perlu diperhatikan.
Untuk mendorong penghimpunan dana, Bank Mandiri mengandalkan penguatan layanan digital, pengembangan produk yang relevan, serta peningkatan program loyalitas. Perseroan juga terus mengoptimalkan dana murah (CASA) yang saat ini berada di atas 71% dari total dana pihak ketiga (DPK).
Direktur Network & Retail Funding PT Bank Tabungan Negara Tbk, Rully Setiawan, juga menyebutkan bahwa tren simpanan kelas menengah mulai membaik seiring stabilisasi daya beli dan pemulihan aktivitas ekonomi. Ia menilai bahwa fenomena “makan tabungan” masih ada pada sebagian kelompok, namun tekanannya mulai berkurang. Nasabah mulai kembali menabung secara bertahap.
Rully memperkirakan pertumbuhan simpanan pada 2026 akan berlanjut secara moderat. Meskipun risiko tekanan masih ada, ketahanan keuangan rumah tangga dinilai mulai membaik dibandingkan tahun lalu. Ia memprediksi tren tabungan kelas menengah bawah akan stabil dengan pertumbuhan terbatas.
Untuk menggenjot tabungan, BTN memperkuat strategi melalui peningkatan layanan digital, penguatan tabungan transaksional berbasis ekosistem perumahan dan payroll, serta mendorong literasi keuangan. Selain itu, bank juga menghadirkan produk tabungan yang fleksibel dan terjangkau guna menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Namun, menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara, perbaikan ini belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental. Ia menilai bahwa tren “makan tabungan” masih terjadi di masyarakat. Kenaikan simpanan pada Februari lebih dipengaruhi faktor musiman, seperti pencairan tunjangan hari raya (THR) oleh sebagian perusahaan sejak akhir Februari.
Bhima menjelaskan bahwa tekanan ekonomi masih cukup besar, sehingga potensi penggerusan tabungan tetap ada. Tekanan berasal dari berbagai faktor, mulai dari kenaikan harga energi, bahan baku industri, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang memicu imported inflation. Kondisi ini berpotensi menekan daya beli dan mendorong pelaku usaha melakukan efisiensi, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan masyarakat.
Selain itu, tingginya pinjaman online juga menjadi indikator tekanan likuiditas rumah tangga. Nilainya yang telah menembus Rp 100 triliun menunjukkan sebagian masyarakat mulai bertahan dengan utang, bukan lagi tabungan. Sebagian kelas menengah rentan bertahan dari pinjaman ke pinjaman, yang pada akhirnya tetap menggerus tabungan.
Dengan berbagai tekanan tersebut, Bhima memproyeksikan tren perbaikan simpanan kelas menengah bawah belum tentu berlanjut sepanjang tahun ini. Risiko penurunan tabungan masih terbuka jika tekanan ekonomi tidak mereda.
Di sisi lain, perbankan dinilai perlu menyiapkan strategi untuk menjaga pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Salah satunya dengan mendorong produk simpanan berbasis valuta asing (valas), yang dinilai lebih menarik di tengah pelemahan rupiah. Selain itu, bank juga perlu mengoptimalkan penghimpunan dana dari deposan besar, termasuk mendorong peralihan dana dari giro ke deposito agar dana tersimpan lebih lama.
“Bank juga bisa memperkuat layanan wealth management untuk menarik dana dari nasabah dengan simpanan besar, sehingga likuiditas lebih terjaga,” imbuhnya.










Discussion about this post