Minat investor pada Surat Berharga Negara Ritel seri SBR015 masih terjaga kuat pada awal masa penawaran. Memasuki pekan kedua, nilai pemesanan surat utang ritel ini sudah mencapai sekitar Rp 2,3 triliun, atau sekitar 11% dari target pemerintah yang dipatok Rp 20 triliun. Data tersebut menunjukkan permintaan awal tetap positif, meski ruang penjualannya masih panjang hingga masa penawaran berakhir.
Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari, menilai pergerakan penjualan SBR015 sejauh ini masih mengikuti pola yang umum terjadi pada seri SBR sebelumnya. Ia mengatakan, performa pekan pertama berjalan baik dan belum menunjukkan perlambatan berarti. “Sepekan pertama SBR015 masih berjalan positif. Penjualan nasional sudah sekitar Rp 2,3 triliun, atau sekitar 11% dari target Rp 20 triliun,” ujarnya kepada Kontan, Senin (5/10/2026).
Dari sisi pilihan tenor, investor tampak lebih menyukai SBR015 bertenor dua tahun dibandingkan tenor empat tahun. Melalui mitra distribusi Bareksa, penjualan tenor 2 tahun tercatat lebih tinggi dan sudah menyentuh 16,74% dari kuota nasional sebesar Rp 15 triliun. Angka itu jauh melampaui tenor 4 tahun yang baru terjual 5,97% dari kuota nasional Rp 5 triliun.
Perbedaan minat tersebut menunjukkan bahwa investor masih cenderung memilih tenor yang lebih pendek. Selain faktor jangka waktu, tingkat imbal hasil juga menjadi penentu penting dalam pembelian SBN ritel. Untuk SBR015, kupon yang ditawarkan berada di level 6,75% untuk tenor 2 tahun dan 6,85% untuk tenor 4 tahun. Menurut Ni Putu, tingkat kupon itu merupakan yang tertinggi untuk seri SBR sejak 2020 dan menjadi salah satu alasan utama produk ini dilirik investor.
Meski secara nominal penjualan SBR015 masih berada di bawah SBR014 pada periode yang sama, selisihnya tidak terlalu besar. Pada sepekan pertama, SBR014 mencatat penjualan sekitar Rp 2,5 triliun, atau sekitar Rp 200 miliar lebih tinggi dibandingkan SBR015. Namun, perbandingan itu perlu dilihat bersama dengan target penerbitan yang berbeda.
Pada seri kali ini, pemerintah menetapkan target jauh lebih besar, yakni Rp 20 triliun. Sementara itu, target SBR014 hanya Rp 15 triliun. Karena itulah, walau angka penjualan SBR015 sedikit lebih rendah secara nominal, tingkat penyerapannya tampak lebih kecil dalam persentase. Dengan sisa masa penawaran yang masih terbuka, Bareksa memperkirakan minat investor dapat menguat lagi dalam beberapa pekan ke depan.










Discussion about this post