Musim Panen Kopi di Batang Dihantui Tindak Pencurian
Musim panen kopi yang sedang berlangsung di kawasan dataran tinggi Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, mulai Mei 2026, menghadapi tantangan besar akibat maraknya pencurian buah kopi matang. Kondisi ini terjadi di sentra perkebunan kopi setempat, di mana panen raya diperkirakan akan berlangsung selama 1,5 hingga dua bulan ke depan.
Seorang petani kopi, Maaruf, menjelaskan bahwa sebagian besar petani memilih untuk memanen buah kopi secara campuran, baik yang masih hijau maupun yang sudah merah. Hal ini dilakukan sebagai upaya menghindari risiko kehilangan hasil panen akibat pencurian.
“Kalau terlalu lama dibiarkan merah di pohon, sering jadi sasaran maling. Jadi biasanya saat sekitar 70 persen buah sudah merah langsung dipanen,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat petani belum bisa sepenuhnya menghasilkan kopi premium dalam jumlah besar. Sebab, kopi berkualitas tinggi membutuhkan proses petik merah atau hanya memanen buah yang benar-benar matang sempurna.
Meski demikian, harga kopi pada musim panen tahun ini dinilai masih cukup baik dan relatif stabil dibanding tahun sebelumnya. Untuk kopi robusta red cherry asalan, harga saat ini berkisar Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram. Sementara green bean asalan dijual sekitar Rp50 ribu per kilogram, sedikit turun dibanding tahun lalu yang sempat mencapai Rp55 ribu per kilogram.
Adapun green bean premium masih memiliki nilai jual tinggi, yakni sekiranya Rp70 ribu per kilogram karena melalui proses sortir dan pengolahan yang lebih ketat.
Maaruf menjelaskan, satu pohon kopi rata-rata mampu menghasilkan sekiranya 10 kilogram buah kopi dalam satu musim panen. Di kebun miliknya terdapat sekiranya 1.000 pohon kopi dengan target hasil panen mencapai 10 ton tahun ini.
“Semoga tahun ini hasilnya bisa sampai 10 ton dari kebun saya sendiri. Belum nanti dari kebun teman-teman petani lainnya,” ujarnya.
Upaya Meningkatkan Daya Tarik Kopi Lokal
Selain mengejar hasil produksi, para petani kopi Batang juga terus berupaya mengenalkan kopi lokal ke pasar yang lebih luas. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui agenda Manual Brew Competition yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Juni 2026 mendatang.
“Kami ingin kopi Batang semakin dikenal di luar daerah. Lewat manual brew competition nanti harapannya kopi Batang bisa lebih naik lagi,” jelasnya.
Dia juga berharap pemerintah daerah bersama aparat keamanan dapat memberikan perhatian terhadap keamanan kawasan perkebunan kopi selama musim panen berlangsung agar petani dapat memanen kopi dengan kualitas terbaik tanpa khawatir kehilangan hasil kebun mereka.
“Kami berharap keamanan kebun kopi petani bisa lebih diperhatikan supaya kopi berkualitas dari Batang tidak habis dicuri,” tutupnya.
Strategi Petani dalam Menghadapi Tantangan
Petani kopi di Kecamatan Reban terus mencari solusi untuk menghadapi ancaman pencurian. Salah satu strategi yang digunakan adalah memanen buah kopi secara campuran. Meskipun hal ini memengaruhi kualitas kopi, namun merupakan langkah yang dianggap lebih aman untuk mengurangi kerugian akibat pencurian.
- Petani memilih memanen buah kopi sebelum sepenuhnya matang.
- Langkah ini dilakukan untuk menghindari risiko kehilangan hasil panen.
- Meski memengaruhi kualitas kopi, strategi ini dianggap lebih efektif dalam situasi saat ini.
Potensi Pasar dan Pengembangan Kopi Batang
Dengan adanya event seperti Manual Brew Competition, kopi Batang memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Ini menjadi kesempatan bagi petani untuk memperkenalkan kualitas kopi lokal kepada konsumen yang lebih luas.
- Event ini diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kopi Batang.
- Dengan peningkatan popularitas, harga kopi juga bisa meningkat.
- Petani berharap dukungan dari pemerintah dan aparat keamanan dapat memperkuat posisi kopi Batang di pasar.









Discussion about this post