JAKARTA – Fenomena langka munculnya awan pelangi di langit Bogor, Jawa Barat dan Sentul baru-baru ini membuat banyak orang terkesima. Kejadian ini terjadi pada Jumat 1 Mei 2026, dan langsung menjadi topik pembicaraan di media sosial. Banyak pengguna membagikan foto dan video yang menunjukkan keindahan awan berwarna-warni tersebut.
Banyak orang merasa kagum dengan keunikan fenomena ini, sementara sebagian lainnya khawatir apakah ini bisa menjadi tanda bencana. Namun, menurut peneliti BRIN Thomas Jamalludin, fenomena ini justru merupakan hal yang wajar dan alami.
Thomas menjelaskan bahwa warna-warna pada awan pelangi muncul karena pembiasan cahaya matahari oleh tetes air di dalam awan. “Ini adalah fenomena biasa, meskipun jarang terjadi. Warna pelangi muncul ketika cahaya matahari melewati tetes air di awan dengan sudut tertentu, sehingga cahaya terbiaskan dan membentuk warna-warna,” katanya saat dihubungi Bisnis.
Fenomena ini dikenal dengan istilah iridescent cloud atau awan pelangi. Menurut laman NASA, iridesensi awan relatif jarang terjadi. Awan harus tipis dan memiliki banyak tetesan air atau kristal es dengan ukuran yang hampir sama. Jika kondisi ini terpenuhi, sinar matahari hanya mengenai beberapa tetesan air pada satu waktu, sehingga menghasilkan efek warna yang indah.
Dilansir dari skybraryaero, iridesensi awan sering kali mirip dengan warna yang terlihat pada lapisan minyak di genangan air. Fenomena ini umumnya terjadi di sekitar matahari atau bulan, dan bisa diamati pada berbagai jenis awan seperti altocumulus, cirrocumulus, awan lentikular, dan cirrus. Warnanya biasanya pastel, tetapi bisa sangat cerah.
Ketika terjadi di dekat matahari, efeknya sulit dilihat karena silau. Untuk mengatasi hal ini, seseorang dapat menghalangi sinar matahari dengan tangan, menyembunyikannya di balik pohon atau bangunan, atau menggunakan kacamata hitam. Alternatif lain adalah melihat pantulan langit di cermin cembung atau genangan air.
Efek iridesensi mirip dengan irisasi. Awan iridesen terjadi karena difraksi cahaya oleh tetesan air kecil atau kristal es. Kristal es yang lebih besar tidak menghasilkan iridesensi, tetapi bisa menyebabkan halo, yaitu fenomena yang berbeda.
Jika bagian awan mengandung tetesan air kecil atau kristal es dengan ukuran serupa, efek kumulatifnya akan terlihat sebagai warna. Awan harus tipis secara optik agar sebagian besar cahaya hanya mengenai satu tetesan. Oleh karena itu, iridesensi biasanya terlihat di tepi awan atau pada awan semi-transparan. Awan yang baru terbentuk cenderung menampilkan iridesensi yang paling terang dan berwarna.
Ketika partikel-partikel dalam awan tipis memiliki ukuran yang sangat mirip dalam area yang luas, iridesensi akan membentuk pola terstruktur seperti korona—cakram terang melingkar di sekitar matahari atau bulan, yang dikelilingi oleh satu atau lebih cincin berwarna.









Discussion about this post