Isu Teror terhadap Siswa SMAN 1 Pontianak
Beberapa waktu lalu, beredarnya isu mengenai adanya ancaman terhadap siswi SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra atau yang akrab disapa Ocha. Isu ini menyebar melalui media sosial dan memicu kekhawatiran dari pihak keluarga maupun masyarakat luas.
Seseorang yang mengaku sebagai kakak Ocha mengunggah bukti-bukti teror yang diterimanya. Dalam postingannya, ia menyebut bahwa Ocha justru mendapat ancaman, bukan dukungan dari pihak penyelenggara lomba. Hal ini membuat pihak keluarga merasa gemetar dan khawatir atas kondisi Ocha.
Berdasarkan informasi yang beredar, Ocha disebut menerima pesan ancaman melalui WhatsApp dengan nomor yang tidak diketahui. Pesan tersebut menyatakan bahwa jika Ocha tidak menghapus video di akun Instagramnya, maka akan ada tindakan hukum seperti somasi.
Pesan ancaman tersebut diunggah oleh akun Threads @zvanniisygg pada Senin (11/5/2026). Pemilik akun tersebut dikabarkan bernama Novia Noviani. Ia mengklaim sebagai kakak Ocha dan membagikan bukti teror yang diterima adiknya.
Setelah menerima pesan tersebut, Ocha disebut mengalami kebingungan karena diminta untuk minta maaf dan dianggap menciptakan kegaduhan. Bahkan, Ocha disebut mengalami tekanan mental hingga sulit tidur. Tak hanya itu, Ocha menjadi lebih pendiam setelah menerima pesan teror tersebut.
Selain itu, ada juga akun @will_bertus1996 yang meminta keadilan untuk Josepha. Dalam postingannya, ia menulis: “Mohon keadilan untuk keponakan saya khususnya ananda Ocha. Ybs yang menjawab pertanyaan dengan benar dari kelompok C dan umum untuk SMAN 1 yang harusnya mewakili Kalbar, ponakan saya sekarang jadi murung dan mengurung diri di kamar.”
Sekolah Buka Suara
Pihak SMAN 1 Pontianak akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait isu tersebut. Informasi ini dibagikan melalui akun Instagram SMAN 1 Pontianak @smansaptk. Dikutip dari TribunJakarta, Kamis (14/5/2026), pihak sekolah mengonfirmasi bahwa berita tersebut adalah hoaks dan tidak terkait dengan Ocha.
Instagram Story akun tersebut merepost akun Threads @zvanniisygg. Dalam pernyataannya, SMAN 1 Pontianak menyampaikan terima kasih atas atensi besar dan kepedulian terhadap Ocha. Mereka menegaskan bahwa berita tersebut adalah hoaks dan tidak bersangkutan dengan Ocha.
Pihak sekolah juga mengunggah insta story lain mengenai kabar keluarga Josepha yang ramai di akun Threads. Mereka menyampaikan bahwa baru-baru ini mereka mendapat laporan beredarnya informasi hoax di media sosial terkait keadaan anggota mereka, Josepha Alexandra (Ocha).
Karena itu, pihak sekolah mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya. Mereka juga berharap media maupun pengguna media sosial dapat lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menyebarkan maupun memilah informasi yang beredar.
Ocha Mendapat Atensi Besar
Meski ada isu hoaks, Ocha tetap mendapatkan atensi besar dari masyarakat Indonesia. Ia dianggap berani mengkritik juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR tingkat Kalimantan Barat. Atensi ini juga turut diperlihatkan oleh Ketua Komisi II DPR RI Muhammad Rifqinizamy Karsayuda.
Rifqi dan Ocha sama-sama menempuh pendidikan di SMAN 1 Pontianak. Ia mengaku dihubungi oleh kawan-kawannya sesama alumni SMA itu. Mereka mengirimkan video tentang kejanggalan dalam LCC di Kalimantan Barat.
Awalnya, Rifqi tidak terlalu atensi karena ia kira ini adalah lomba yang sudah diselenggarakan berkali-kali dan sudah lama. Namun, setelah memeriksa, ia menemukan dua hal yang cukup fatal secara substansi.
Menurut Rifqi, jawaban yang disampaikan grup SMAN 1 Pontianak itu persis dengan ketentuan dalam UUD dan UU tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait mekanisme pemilihan anggota BPK. Namun, jawaban tersebut disalahkan oleh juri. Adapun kelompok lain menjawab sama, tetapi dibenarkan oleh juri.
Sebagai satu-satunya alumni SMAN 1 Pontianak yang sekarang menjadi anggota DPR RI, Rifqi kemudian membuat video pernyataan resmi bahwa ia meminta kepada MPR, institusi di mana ia juga menjadi anggotanya, untuk segera membuat klarifikasi secara terbuka.
Rifqi menyebut dua anggota dewan juri dalam lomba itu adalah pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan MPR RI. Baginya, ini bukan soal siapa yang menang atau salah, tetapi soal bagaimana fair atau tidak fair pelaksanaan lomba ini dilakukan.
Sebagai alumni SMAN 1 Pontianak, Rifqi berkomunikasi dengan para elite di Jakarta agar bisa menghadirkan Ocha dan kawan-kawan. Menurutnya, Ocha menjadi sebuah simbol karena saat perlombaan itu dialah yang menjawab pertanyaan.









Discussion about this post