Peran Mama Sinta dalam Polemik Film Pesta Babi
Kemunculan Yasinta Moowend atau dikenal sebagai Mama Sinta memperluas polemik terkait penayangan film Pesta Babi. Sebagai tokoh masyarakat Papua, Mama Sinta merasa tidak puas dengan tayangan film tersebut. Ia mengungkapkan rasa sakit hati yang mendalam karena wajahnya muncul di dalam film dokumenter karya sutradara Dandhy Laksono.
Mama Sinta menegaskan bahwa ia tidak pernah memberikan izin untuk pengambilan gambar aktivitasnya dalam film tersebut. Ia menyebut orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film sebagai penjahat, karena tanpa komunikasi dan izin dari dirinya, wajahnya digunakan dalam film yang ia anggap merugikannya.
Ia mengaku baru mengetahui wajahnya muncul di film Pesta Babi pada 8 April 2024. Saat itu, ia diajak oleh seseorang bernama Tigor untuk menyaksikan film tersebut di Aula Susteran Maranatha, Jayapura. Ia menyatakan bahwa ia tidak pernah diberitahu sebelumnya tentang pembuatan film tersebut.
Kritik terhadap Penayangan Film
Mama Sinta meminta agar penayangan film Pesta Babi dihentikan, termasuk acara nonton bareng (nobar). Ia berharap agar pihak-pihak yang memutar film tersebut diproses sesuai hukum. Ia juga menegaskan bahwa dirinya bukanlah “Patung Asmat”, seperti yang disebutkan dalam film tersebut.
Film Pesta Babi merupakan dokumenter yang mengangkat kondisi masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya dampak Proyek Strategi Nasional (PSN) terhadap ruang hidup warga. Proyek ini adalah program pembangunan berskala besar yang ditetapkan pemerintah sebagai prioritas nasional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur.
Dalam film tersebut, fokusnya adalah pada pembukaan kawasan hutan seluas sekitar 2,5 juta hektare di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan. Film ini disutradarai antropolog Cypri Jehan Paju Dale dan diproduseri Dandhy Laksono melalui kolaborasi sejumlah lembaga seperti Watchdoc, Jubi Media, Greenpeace Indonesia, Ekspedisi Indonesia Baru, serta Pusaka Bentala Rakyat.
Proses Produksi Film yang Panjang
Dandhy Laksono menjelaskan bahwa proses produksi film Pesta Babi tidak dilakukan dalam waktu singkat. Menurutnya, pengumpulan bahan dokumentasi hingga riset lapangan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ia menyatakan bahwa mereka mengerjakan film ini secara intensif selama dua tahun terakhir, namun pengumpulan gambar dilakukan selama 3-4 tahun terakhir.
Riset ilmiah menjadi dasar penting dalam pengembangan narasi dokumenter tersebut. Dandhy menegaskan bahwa film ini dibuat berdasarkan observasi dan pengumpulan data lapangan yang panjang, bukan sekadar opini atau asumsi tanpa dasar.
Pembubaran Nobar Film di Berbagai Daerah
Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap film tersebut, sejumlah kegiatan nobar diketahui dibubarkan. Salah satu pembubaran terjadi di Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, pada Jumat (8/5/2026). Pembubaran itu dipimpin langsung Dandim 1501 Ternate Letkol Inf Jani Setiadi.
Selain di Ternate, pembubaran juga terjadi di lingkungan pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Barat. Agenda nobar disebut dibatalkan atau dihentikan di Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma).
Kritik terhadap Pelarangan Nobar
Menanggapi pembubaran nobar di sejumlah tempat, Dandhy Laksono melontarkan kritik tajam. Ia menyebut pelarangan pemutaran film tanpa membantah isi dokumenter dengan data tandingan sebagai tindakan yang malas. Menurut Dandhy, apabila ada pihak yang tidak sepakat dengan isi film, respons seharusnya dilakukan melalui argumentasi, riset, maupun data pembanding.
Ia menilai diskusi ilmiah lebih tepat dibanding pelarangan atau pembubaran pemutaran film. Dalam pandangannya, karya dokumenter yang dibuat berdasarkan penelitian seharusnya juga ditanggapi dengan pendekatan berbasis data.
Standar Keterbukaan Informasi
Dandhy juga menyinggung soal standar keterbukaan informasi publik apabila pembubaran nobar dilakukan karena adanya tekanan kekuasaan atau rezim. Ia menyebut situasi itu dapat menurunkan kualitas diskusi publik dan transparansi informasi.
Film Dokumenter Soroti Kondisi Masyarakat Adat Papua Selatan
Film Pesta Babi diketahui berfokus pada kehidupan masyarakat adat Papua Selatan yang terdampak proyek pembukaan lahan dalam skala besar. Masyarakat adat merupakan kelompok masyarakat yang memiliki hubungan turun-temurun dengan wilayah tertentu serta memiliki identitas budaya, adat, dan sistem sosial khas.
Dalam dokumenter tersebut, digambarkan bagaimana perubahan lingkungan dan pembukaan kawasan hutan memengaruhi ruang hidup masyarakat lokal. Wilayah yang menjadi sorotan meliputi Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Ketiga daerah tersebut merupakan bagian dari Papua Selatan yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian karena proyek pembangunan dan investasi skala besar.
Film ini juga mencoba menampilkan perspektif masyarakat lokal mengenai perubahan yang terjadi di wilayah mereka.
Harapan Dandhy Laksono
Selain mengkritik pembubaran nobar, Dandhy Laksono berharap film tersebut dapat menjadi bahan refleksi terkait kebijakan pemerintah di Papua. Menurutnya, diskusi terhadap isi film seharusnya diarahkan pada substansi persoalan yang diangkat.
Harapan Dandhy adalah agar masyarakat dapat memulai diskusi dengan mempertanyakan apakah adanya penjajahan bersifat kolonialisme di Papua. Setelah menonton film, masyarakat harus mulai dengan pertanyaan tersebut.








Discussion about this post