AS Roma menunjukkan penghormatan khusus kepada Jose Mourinho saat mantan pelatih mereka kembali ke Stadion Olimpico pada Kamis (15/10/2026) dini hari. Momen itu terjadi dalam laga matchday kedua Liga Champions antara AS Roma dan Real Madrid, ketika Mourinho datang sebagai lawan bersama klub barunya. Di tengah pertandingan yang berakhir pahit bagi tuan rumah, publik Roma tetap memberi sambutan hangat kepada sosok yang pernah membawa mereka meraih trofi Eropa.
Dalam pertandingan itu, AS Roma sempat berada di atas angin setelah unggul 3-1. Namun, keunggulan tersebut sirna karena Real Madrid mencetak tiga gol pada menit-menit akhir dan menutup laga dengan kemenangan 4-3. Hasil itu membuat Roma pulang dengan kekecewaan besar, sementara Madrid melanjutkan start sempurna mereka di fase awal Liga Champions musim ini.
Meski hasil di lapangan menyakitkan, atmosfer di tribun menunjukkan sisi lain dari hubungan Roma dan Mourinho. Ultras AS Roma membentangkan spanduk berisi pesan penghormatan kepada pelatih asal Portugal tersebut. Isi pesan itu menegaskan bahwa siapa pun yang memberi kejayaan untuk klub akan tetap dikenang oleh pendukung Roma. Tulisan tersebut juga memuat sapaan emosional untuk Mourinho, yang akrab dijuluki The Special One.
Sentimen hangat itu bukan tanpa alasan. Mourinho pernah menukangi AS Roma selama hampir 2,5 tahun, sejak Juli 2021 hingga Januari 2024. Dalam periode tersebut, ia menjadi figur penting yang mengakhiri penantian panjang klub terhadap gelar juara. Prestasi paling bersejarahnya hadir pada musim debut, ketika Roma menjuarai Liga Konferensi Eropa edisi perdana.
Pencapaian Mourinho bersama Roma tak berhenti di situ. Pada musim penuh keduanya, ia membawa tim melaju sampai final Liga Europa, meski akhirnya kalah dari Sevilla dalam laga yang disebut kontroversial. Dua capaian itu membuat namanya melekat kuat dalam ingatan pendukung Roma, terutama karena klub sebelumnya lama tidak menikmati trofi di level Eropa.
Selama memimpin Roma, Mourinho mendampingi tim dalam 138 pertandingan. Catatannya mencakup 68 kemenangan, 30 hasil imbang, dan 40 kekalahan, dengan rata-rata 1,70 poin per laga. Warisan tersebut, ditambah trofi Liga Konferensi Eropa, menjadi alasan mengapa ia tetap dihormati meski kini berada di sisi lawan. Bagi Roma, malam itu berakhir dengan kekalahan dramatis; bagi Mourinho, kunjungan ke Olimpico kembali menegaskan betapa kuat jejaknya di klub tersebut.
Jalannya pertandingan sendiri awalnya memberi harapan besar bagi Roma. Mereka membuka skor lewat gol Martin De Roon pada menit ke-25, disusul gol penyeimbang Kylian Mbappe lima menit kemudian. Roma kembali menjauh lewat dua gol Donyel Mallen pada menit ke-51 dan 58. Namun, kelengahan di lini belakang membuat semuanya berubah. Carlos Espi mencetak gol pada menit ke-83, Endrick menyamakan keadaan dua menit berselang, lalu Antonio Rudiger memastikan kebangkitan Real Madrid pada menit ke-90.









Discussion about this post