Ganda putri Indonesia Fitriani Sabatini/Fadona Kusumawati memastikan pulang dengan medali dari Asian Games 2026 setelah menembus final cabang padel di Nagoya City Higashi Sport Center, Jepang, Jumat. Kemenangan telak 6-0, 6-0 atas pasangan Filipina Danna Abad/Joshea Malazarte menegaskan langkah mereka di ajang debut padel Asian Games sekaligus menjawab anggapan bahwa olahraga ini hanya ikut-ikutan tren.
Setelah pertandingan, Fadona menyinggung pandangan miring yang sempat melekat pada padel di Indonesia. Ia menilai keberhasilan mereka menembus partai puncak menjadi pembuktian bahwa cabang olahraga tersebut punya nilai kompetitif, bukan sekadar olahraga yang ramai karena faktor gaya hidup. “Apalagi padel diremehkan di Indonesia kan, katanya olahraga FOMO. Tapi kita bisa buktiin pulang bawa medali,” ujarnya.
Perjalanan Fitriani/Fadona menuju final juga punya cerita tersendiri. Keduanya bukan datang dari padel sejak awal, melainkan pernah meniti karier sebagai petenis. Keputusan berpindah cabang diambil setelah mereka melihat peluang prestasi yang dinilai lebih terbuka di padel, terutama karena ekosistemnya di Indonesia masih berkembang dan belum sepadat tenis.
Fitriani menjelaskan dirinya pertama kali diajak Fadona mencoba padel. Dari sekadar ikut bermain, ia kemudian merasa nyaman dan tertarik untuk menekuninya lebih serius. Di sisi lain, berkurangnya pertandingan tenis di level nasional ikut memperkuat alasan mereka untuk beralih. Fadona pun menegaskan bahwa pertimbangan utama mereka adalah kesempatan untuk bersaing dan meraih hasil lebih besar di cabang baru tersebut. “Kita melihat juga kalau padel ini kita ada chance besar di sini, beda dengan tenis. Makanya kita langsung switch ke padel, maka dari itu kita sudah fokus yang bisa di titik sekarang,” kata Fadona.
Meski sama-sama memiliki dasar tenis, proses adaptasi ke padel tidak berlangsung instan. Fadona mengakui ada sejumlah unsur permainan yang harus dipelajari dari nol, terutama soal pemanfaatan kaca, pola permainan, dan penempatan posisi. Menurut dia, bagian-bagian itu memerlukan waktu cukup panjang untuk benar-benar dikuasai, walaupun beberapa teknik seperti voli, forehand, backhand, dan smash bisa lebih cepat menyesuaikan karena fondasi tenis yang sudah dimiliki.
Bagi pasangan ini, keberhasilan mengamankan medali di Asian Games 2026 terasa makin berharga karena datang dari cabang yang masih relatif baru di Indonesia. Mereka melihat pencapaian tersebut sebagai bukti bahwa padel bukan hanya cocok untuk rekreasi atau sekadar mengikuti popularitas, tetapi juga bisa menghasilkan prestasi di level internasional. Fadona pun tak menutupi rasa emosinya setelah memastikan tiket final. “Yang pasti enggak nyangka, bangga, senang banget, campur aduk rasanya. Campur aduk, bisa di titik sekarang, ternyata padel bisa bikin kita seperti ini,” ujarnya.
Di final nanti, Fitriani/Fadona akan menunggu lawan dari pemenang semifinal sesama wakil Indonesia, Putria Novela/Beatrice Gumulya, yang bertemu pasangan Jepang Saki Tsukamoto/Kae Tokumoto. Hasil laga itu akan menentukan siapa yang menjadi penghalang terakhir mereka untuk meraih emas pada debut padel di Asian Games.










Discussion about this post