Aktris Aisyah Aqilah mempertimbangkan untuk mematikan fitur langganan eksklusif di akun media sosialnya karena merasa sudah tidak lagi aktif menyediakan konten khusus bagi penggemar yang membayar akses tersebut. Pernyataan itu ia sampaikan saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, dan menegaskan bahwa keputusan itu muncul dari rasa tidak enak kepada para pelanggan yang sudah mengeluarkan uang.
Meski fitur berbayar itu masih ia gunakan hingga sekarang, Aisyah mengakui aktivitasnya di kanal eksklusif belakangan menurun. Ia menyebut dirinya sudah jarang mengunggah konten khusus, sehingga keberadaan layanan tersebut mulai dipikirkan ulang. Menurut aktris berusia 23 tahun itu, ia tidak ingin mempertahankan sesuatu yang tidak lagi dijalankan secara konsisten.
"Fitur langganan eksklusif? Aku pakai, tapi aku sudah jarang (bikin konten). Aku pengen stop kayaknya," kata Aisyah Aqilah di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat.
Rasa kasihan kepada penggemar menjadi alasan utama di balik pertimbangannya. Aisyah menilai tidak adil jika para pelanggan terus membayar, sementara ia tidak mampu memberikan pembaruan dalam frekuensi yang memadai. Karena itu, ia melihat penghentian layanan sebagai langkah yang lebih jujur daripada tetap membuka akses berbayar tanpa aktivitas yang sepadan.
"Aku sudah jarang nge-post. Kasihan yang sudah bayar," ungkap aktris 23 tahun itu.
Fitur langganan eksklusif memang kerap dipakai publik figur dan kreator sebagai cara mendekatkan diri dengan pengikut sekaligus memperoleh dukungan langsung. Melalui sistem ini, pelanggan biasanya bisa menikmati unggahan yang tidak tersedia untuk pengguna umum, tergantung aturan platform dan pilihan kreator. Namun, layanan seperti ini menuntut konsistensi karena pelanggan tentu berharap ada konten yang rutin dan terasa bernilai.
Pertimbangan Aisyah menunjukkan sisi lain dari model berlangganan di media sosial: bukan hanya soal peluang pendapatan, tetapi juga tanggung jawab menjaga kepercayaan penggemar. Alih-alih memaksakan layanan yang sudah jarang terisi, ia memilih memikirkan ulang keberlanjutan fitur tersebut agar para pelanggan tidak terus membayar untuk akses yang minim pembaruan.










Discussion about this post