Kuasa hukum Aron Ashab, Sunan Kalijaga, meminta dugaan penculikan dan penyekapan yang dialami kliennya ditelusuri secara serius. Ia menyebut Aron diduga dibawa secara paksa ke sebuah tempat, lalu tidak diberi kebebasan keluar selama sekitar enam bulan. Kasus ini mencuat setelah Aron kembali aktif di Instagram pada 14 Oktober 2026, usai lama tidak muncul di media sosial.
Menurut Sunan, hal paling penting bukan hanya cerita soal kekerasan fisik yang disebut dialami Aron, tetapi dasar dari tindakan membawa dan menahan seseorang di lokasi tertentu. Ia menilai, jika benar kebebasan seseorang dirampas tanpa penjelasan yang sah, maka perlu dicari siapa pihak yang bertanggung jawab dan atas alasan apa hal itu terjadi. Dalam pertemuan dengan wartawan di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, Sunan menegaskan bahwa situasi seperti ini sulit dipahami jika tidak ada putusan hukum yang berkekuatan tetap.
“Ketika kita dirampas kemerdekaannya tanpa mengetahui apa salah kita, tanpa adanya putusan hukum yang inkracht, kan kita bingung,” ujar Sunan. Dari sudut pandangnya, cara seseorang dibawa, kemudian ditempatkan di satu lokasi dan dibatasi ruang geraknya, perlu diperiksa lebih jauh. Karena itu, ia menyebut dugaan yang muncul bisa mengarah pada tindak penculikan jika unsur-unsurnya terpenuhi.
Sunan juga mengungkap bahwa Aron bercerita soal perlakuan yang tidak semestinya selama berada di tempat itu. Ia menyebut ada dugaan kekerasan fisik, meski detail peristiwanya masih perlu diverifikasi. Sunan mengaku sudah mengingatkan Aron agar hanya menyampaikan pengalaman yang benar-benar dialami, tanpa menambah cerita yang belum tentu sesuai fakta. “Saya bilang, silakan kamu cerita, tapi jangan yang tidak sesuai dengan fakta. Bicara apa yang kamu alami sesungguhnya, seperti apa, dan kamu bisa pertanggungjawabkan,” tuturnya.
Hingga kini, Sunan belum memperoleh gambaran utuh mengenai awal mula Aron dibawa ke lokasi tersebut. Ia mengatakan pertemuannya dengan Aron berlangsung singkat di sebuah restoran di Senayan, Jakarta, sehingga belum semua informasi bisa digali. Karena itu, ia masih mencari penjelasan terkait kronologi, pihak yang diduga terlibat, dan alasan Aron ditempatkan di sana dalam waktu lama.
Sunan mempertanyakan kesalahan apa yang dituduhkan kepada Aron hingga kebebasannya dibatasi. Ia juga menyoroti kemungkinan bahwa jika memang ada dugaan pelanggaran hukum, maka prosedur yang ditempuh harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Saat bertemu, kata dia, Aron terlihat bingung, ketakutan, dan seperti baru lepas dari situasi yang belum sepenuhnya ia pahami. Sunan menilai ingatan Aron terhadap sosok tertentu bisa menjadi petunjuk awal untuk mengurai rangkaian kejadian itu, dan tidak menutup kemungkinan perkara ini dibawa ke jalur hukum.









Discussion about this post