Istilah tone deaf belakangan kerap dipakai warganet untuk menyebut sikap figur publik yang dianggap tak peka terhadap situasi sosial. Di Indonesia, sejumlah artis ikut terseret kritik karena unggahan, komentar, atau kehadiran mereka dalam sebuah acara memicu perdebatan. Nama Maia Estianty, Maudy Ayunda, Marissa Anita, hingga Hanum Mega menjadi empat sosok yang belakangan ramai dibahas karena dianggap kurang sensitif oleh sebagian pengguna media sosial.
Salah satu sorotan datang dari Maia Estianty setelah ia mengunggah pandangannya soal rezeki dan kerja keras di Threads pada 9 Oktober 2026. Dalam unggahan itu, Maia memakai perumpamaan manusia seperti burung liar yang harus terbang mencari makan. Maksud pesannya dinilai menekankan bahwa setiap orang perlu berikhtiar untuk memperoleh penghasilan. Namun, sejumlah warganet menilai penjelasan itu terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi, seolah kondisi hidup hanya ditentukan oleh kemauan individu.
Kritik muncul karena banyak orang merasa realitas di lapangan jauh lebih rumit. Ada pekerja yang sudah menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan memegang lebih dari satu pekerjaan, tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan harian. Perdebatan makin melebar ketika sebagian warganet mengaitkan keberhasilan anak-anak Maia, yakni Al, El, dan Dul, dengan dukungan keluarga serta akses fasilitas yang mereka miliki. Dari situ, banyak yang menilai unggahan Maia kurang empatik terhadap orang-orang yang hidup dengan keterbatasan ekonomi.
Nama berikutnya yang ikut disorot adalah Maudy Ayunda. Aktris dan penyanyi itu menuai komentar miring setelah video YouTube berjudul Mindfulness in the Age of Bad News diunggah pada 21 Agustus 2026. Dalam video tersebut, Maudy membahas pentingnya menjaga kesehatan mental dan mengatur paparan informasi negatif. Meski topiknya berkaitan dengan keseimbangan diri, sebagian penonton merasa pesan itu tidak sepenuhnya nyambung dengan keadaan Indonesia saat ini.
Warganet menilai saran untuk membatasi berita buruk bisa terdengar tidak realistis bagi masyarakat yang sedang berhadapan langsung dengan masalah hidup. Saat itu, publik memang tengah disuguhi berbagai persoalan, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, bencana alam, tekanan ekonomi, sampai polemik kebijakan pemerintah. Kritik terhadap Maudy kemudian dijawab lewat klarifikasi pada 13 September 2026 di kolom komentar video yang sama. Ia menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa kemampuan menjauh sejenak dari arus berita adalah privilese yang tidak dimiliki semua orang, terutama mereka yang terdampak langsung.
Kontroversi lain melibatkan Marissa Anita dan Pancatera setelah keduanya hadir dalam upacara HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026. Seusai acara, foto mereka bersama Presiden Prabowo Subianto dan Didit Hediprasetyo beredar luas di media sosial. Kehadiran itu memancing tafsir beragam, terutama karena Marissa selama ini dikenal memiliki citra kritis dan independen lewat In Her View. Bagi sebagian warganet, keikutsertaan mereka dalam acara kenegaraan dianggap bertolak belakang dengan sikap publik yang selama ini ditampilkan.
Di sisi lain, Hanum Mega juga tak luput dari kritik setelah pesta ulang tahunnya yang ke-26 digelar pada 20 September 2026 di MOJA Museum, kawasan kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno. Perayaan bertema Y2K Gyaru itu dihadiri sejumlah nama populer, termasuk Fuji, Rachel Vennya, Erika Carlina, dan Nathalie Holscher. Meski ramai dan meriah, sebagian warganet menilai pesta tersebut kurang peka terhadap situasi ekonomi masyarakat. Hanum kemudian menjelaskan bahwa acara itu melibatkan lebih dari 50 vendor, sehingga menurutnya perayaan tersebut juga memberi ruang bagi para pekerja dan pelaku usaha. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa di era media sosial, gestur kecil dari figur publik bisa cepat berubah menjadi perdebatan soal kepekaan dan konteks sosial.










Discussion about this post