Memasuki dunia kerja membuat Gen Z mulai mengubah cara memandang wellness. Setelah lulus dan beralih dari bangku pendidikan ke rutinitas profesional, mereka tak lagi hanya fokus pada penampilan, tetapi juga pada energi tubuh, kualitas tidur, dan kondisi emosional agar tetap mampu mengikuti ritme kerja yang padat.
Hal itu disampaikan Managing Director Guardian Indonesia, Bhavin Patel, saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Menurut dia, kelompok muda yang sedang berada dalam masa transisi menuju kehidupan profesional cenderung lebih sadar bahwa kesehatan dari dalam tubuh ikut menentukan performa sehari-hari. Perhatian terhadap wellness, kata Bhavin, kini menjadi bagian penting dari cara Gen Z menjalani fase baru dalam hidup mereka.
Bhavin menilai, energi yang dicari anak muda bukan hanya soal merasa kuat untuk beraktivitas. Lebih luas dari itu, energi berkaitan dengan tubuh yang terasa segar, tidur yang cukup, dan kestabilan emosi. Ia melihat tiga hal tersebut semakin sering muncul dalam percakapan seputar kebutuhan konsumen muda ketika mereka mulai bekerja dan menghadapi tuntutan baru.
Di sisi lain, ia juga menyoroti kebingungan yang kerap dialami konsumen muda saat memilih produk atau solusi wellness yang tepat. Dalam urusan nutrisi misalnya, arus informasi yang sangat besar tidak selalu membuat mereka lebih mudah menentukan pilihan. Justru, menurut Bhavin, banyak di antara mereka belum tahu harus mencari rujukan ke mana atau meminta bantuan kepada siapa.
“Mereka sering kali tidak tahu harus mencari informasi atau bantuan ke mana, terutama ketika berbicara tentang nutrisi. Di sinilah kami ingin mengambil peran, yaitu memberikan arahan dan saran kepada konsumen,” kata Bhavin. Ia menambahkan bahwa kebutuhan wellness tidak bisa disamaratakan karena tiap orang punya kondisi yang berbeda, dipengaruhi usia, gaya hidup, dan fase kehidupan yang sedang dijalani.
Meski perhatian terhadap kondisi tubuh dari dalam terus menguat, faktor luar tetap menjadi bagian dari wellness bagi konsumen Indonesia. Bhavin menyebut kosmetik masih memiliki pasar yang besar karena banyak orang ingin tampil menarik. Di luar itu, perawatan kulit dan rambut juga masuk dalam daftar kebutuhan penting. Sementara untuk konsumen yang lebih senior, fokus bisa bergeser ke kebugaran dan kesehatan tulang.
Melihat perubahan kebutuhan itu, Guardian berupaya menghubungkan beauty, personal care, dan wellness dalam satu ekosistem layanan. Perusahaan ritel kesehatan dan kecantikan tersebut juga menyiapkan program yang menggabungkan berbagai pengalaman konsumen, termasuk assessment serta sistem earn and burn yang bisa dipakai secara daring maupun luring. Bhavin mengatakan pendekatan itu dirancang agar Guardian tidak sekadar menjual produk, melainkan ikut mendampingi perjalanan wellness konsumen dari berbagai kalangan.










Discussion about this post