Iran menegaskan tidak lagi menaruh kepercayaan pada negosiasi dengan Amerika Serikat setelah serangkaian pembicaraan damai tetap diiringi serangan dan sanksi ekonomi dari Washington. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan sikap itu dalam wawancara dengan stasiun televisi berbasis di Qatar pada Sabtu, 26 September 2026, dan menilai tidak ada dasar yang kuat untuk mencapai kesepahaman dengan pihak AS.
Pezeshkian mengatakan Teheran melihat Washington terus mengambil langkah yang bertentangan dengan semangat perundingan. Ia menyebut Iran tidak akan tunduk pada tekanan yang datang dari AS maupun Israel. Dalam pernyataan lanjutan yang dikutip Al Jazeera pada Minggu, 27 September 2026, ia menegaskan bahwa Iran akan terus melawan sampai mampu bertahan dari tekanan tersebut.
Di hadapan media itu, Pezeshkian juga menolak anggapan bahwa tekanan ekonomi dan militer bisa memaksa negaranya menyerah. Ia menuduh AS dan Israel ingin menjatuhkan Iran, sekaligus menyerukan agar negara-negara Islam tidak dibiarkan terpecah oleh campur tangan Washington. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa hubungan Teheran dengan AS dan sekutunya masih berada pada titik sangat tegang.
Sikap keras Iran itu muncul tak lama setelah Teheran menyerahkan proposal terbaru kepada AS pada hari ketiga sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Kamis, 24 September 2026. Pengajuan tersebut dilakukan melalui Qatar yang selama ini berperan sebagai mediator. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kemudian memaparkan isi proposal itu kepada media pada Jumat, 25 September 2026.
Menurut Araghchi, tawaran Iran berpusat pada pembukaan Selat Hormuz. Teheran meminta Washington mencabut blokade atas seluruh pelabuhannya, menghapus sanksi terhadap penjualan minyak, melepaskan aset Iran yang dibekukan sekitar 12 miliar dolar AS atau setara Rp214 triliun, serta mematuhi gencatan senjata di Lebanon dan Yaman. Sebagai imbalannya, Iran menyatakan siap menuruti permintaan AS untuk membuka jalur strategis tersebut. Araghchi mengatakan prosesnya kemungkinan membutuhkan empat hingga lima hari sebelum Selat Hormuz dapat dibuka sepenuhnya pada hari keenam atau ketujuh.
Namun, proposal itu disebut ditolak oleh Presiden AS Donald Trump. Araghchi mengaku belum menerima konfirmasi resmi dari Washington mengenai penolakan tersebut, meski Iran berharap usulan itu dapat diterima. Jika benar ditolak, jalan diplomasi antara kedua negara akan semakin sempit dan membuka risiko ketegangan baru di kawasan pada masa mendatang.
Sumber: www.idntimes.com










Discussion about this post