Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia Akibat Ancaman Blokade Selat Hormuz
Harga minyak mentah dunia kembali mengalami lonjakan tajam, melebihi angka 100 dolar AS per barel. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan rencana untuk memblokade seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ancaman tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak global, sehingga memicu kenaikan harga secara signifikan.
Berdasarkan data pasar, minyak mentah brent yang menjadi patokan internasional mengalami kenaikan sebesar 8 persen ke level 102 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah AS juga melonjak 8 persen menjadi 104 dolar AS per barel. Lonjakan harga ini menunjukkan ketidakstabilan di pasar energi akibat ancaman dari pihak berwenang.
Gagalnya Gencatan Senjata Picu Kenaikan Harga
Meski harga minyak saat ini mengalami kenaikan, posisi harga masih di bawah level tertinggi yang tercatat pada pekan lalu. Sebelumnya, harga sempat turun setelah Trump membatalkan ancaman serangan ke Iran dan setuju untuk melakukan pembicaraan gencatan senjata. Namun, belum adanya kesepakatan permanen hingga mendekati tenggat waktu membuat harga kembali merangkak naik.
Saat ini, harga minyak sudah lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan pada 1 April lalu. Situasi semakin memburuk dengan respons negatif pasar terhadap pidato Trump sebelumnya yang dianggap tidak menjelaskan secara rinci mengenai strategi keluar dari konflik tersebut.
Trump dalam sebuah wawancara di Fox News mengatakan, “Kami tidak akan membiarkan Iran menghasilkan uang dengan menjual minyak kepada pihak yang mereka sukai dan tidak kepada pihak yang tidak mereka sukai, atau apa pun itu. Ini akan menjadi semuanya atau tidak sama sekali.”
Cuan Iran di Selat Hormuz Ditaksir Capai 2 Juta Dolar AS

Selama konflik berlangsung, Iran dilaporkan mendapat keuntungan finansial dengan menarik biaya lintasan hingga 2 juta dolar AS bagi setiap kapal yang melewati Selat Hormuz. Trump sempat mengusulkan ide serupa sebagai bentuk usaha patungan dengan Iran pada pekan sebelumnya.
Data dari Kpler menunjukkan bahwa Iran mampu mengekspor rata-rata 1,85 juta barel minyak mentah per hari hingga Maret. Angka ekspor tersebut mengalami kenaikan sekitar 100 ribu barel per hari jika dibandingkan dengan periode tiga bulan sebelumnya.
Ancaman Inflasi dan Kenaikan Harga Bahan Pokok

Rencana blokade tersebut diprediksi akan membebani masyarakat AS secara langsung. Jika tren kenaikan minyak terus berlanjut, harga bahan bakar dipastikan akan tetap tinggi. Hingga Minggu, rata-rata harga bensin di AS sudah menyentuh 4,12 dolar AS per galon, atau naik 38 persen sejak awal perang.
Peneliti senior dari Middle East Institute Karen Young menyebutkan bahwa penyelesaian perang dan penurunan harga minyak mungkin masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Dia juga memperingatkan bahwa tingginya biaya minyak akan memicu inflasi pada sektor pangan karena terganggunya rantai pasok bahan pupuk dan kemasan makanan. Kondisi itu diprediksi akan menaikkan tekanan harga pada berbagai barang di toko ritel besar.
“Kita akan mulai melihat tekanan inflasi itu. Pikirkan semua yang Anda beli di toko ritel besar,” ujarnya.










Discussion about this post