Tingkat Ayah di Jepang yang Mengambil Cuti Mengasuh Anak Mencapai 50,9 Persen
Pada tahun fiskal 2025, tingkat ayah di Jepang yang mengambil cuti mengasuh anak melampaui 50 persen untuk pertama kalinya. Angka ini mencerminkan perubahan signifikan dalam pola pengasuhan anak, terutama dengan adanya berbagai kebijakan pemerintah yang mendorong partisipasi ayah dalam tugas-tugas keluarga.
Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mencatat bahwa tingkat cuti ayah mencapai 50,9 persen. Angka ini meningkat sebesar 10,4 poin persentase dibandingkan tahun fiskal sebelumnya, serta menjadi kenaikan berturut-turut selama 13 tahun. Pencapaian ini juga memenuhi target pemerintah yang menetapkan angka 50 persen pada tahun 2025.
Meski demikian, tingkat cuti mengasuh anak di kalangan perempuan masih jauh lebih tinggi, yakni sebesar 88,3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan partisipasi ayah, peran ibu dalam pengasuhan anak masih mendominasi.
Kebijakan Pemerintah yang Mendorong Partisipasi Ayah
Peningkatan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan partisipasi di perusahaan-perusahaan kecil. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah mewajibkan perusahaan untuk menjelaskan skema cuti mengasuh anak kepada karyawan yang melaporkan kehamilan atau kelahiran. Selain itu, program cuti ayah pascamelahirkan juga diperkenalkan agar lebih mudah diakses.
Survei yang dilakukan mencakup laki-laki dan perempuan yang memiliki anak lahir antara Oktober 2023 hingga September 2024. Pemerintah kemudian memeriksa apakah mereka telah mengambil cuti mengasuh anak hingga Oktober 2025.
Perbedaan Tingkat Cuti Berdasarkan Ukuran Perusahaan
Berdasarkan ukuran perusahaan, tingkat cuti ayah di perusahaan dengan lima hingga 29 karyawan melonjak menjadi 42,9 persen dari sebelumnya 25,1 persen. Sementara itu, di perusahaan dengan 500 karyawan atau lebih, angkanya meningkat dari 53,8 persen menjadi 60,7 persen.
Dari sisi durasi, sebagian besar ayah mengambil cuti selama satu hingga kurang dari tiga bulan dengan porsi 30,3 persen. Sementara itu, perempuan paling banyak mengambil cuti selama 12 hingga kurang dari 18 bulan, dengan proporsi mencapai 31,4 persen.
Target Pemerintah yang Lebih Ambisius
Pemerintah Jepang kini memasang target yang lebih ambisius. Tingkat ayah yang mengambil cuti mengasuh anak ditargetkan meningkat menjadi 85 persen pada 2030. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus mendorong partisipasi ayah dalam pengasuhan anak.
Survei tersebut dilakukan terhadap sekitar 6.300 tempat kerja yang memiliki sedikitnya lima karyawan. Sebanyak 3.291 tempat kerja memberikan tanggapan dalam survei tersebut.
Kesimpulan
Tingkat cuti ayah di Jepang yang mencapai 50,9 persen pada tahun fiskal 2025 menandai perubahan penting dalam budaya kerja dan pengasuhan anak. Dengan kebijakan pemerintah yang semakin mendukung partisipasi ayah, diharapkan dapat membantu mengurangi beban pengasuhan yang selama ini didominasi oleh ibu. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam mencapai target 85 persen pada 2030. Diperlukan upaya bersama dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk mewujudkan kesetaraan dalam pengasuhan anak.










Discussion about this post