Harga Belacan di Bangka Belitung Melambung, Lebih Mahal dari Timah
Harga belacan atau terasi di Bangka Belitung kini mencapai tingkat yang sangat tinggi. Di Pasar Kota Pangkalpinang, satu kilogram terasi bisa dijual hingga Rp250 ribu per kilogram. Bahkan ada pedagang yang menjualnya dengan harga Rp300 ribu per kilogram. Tingginya harga ini bahkan melebihi harga pasir (bijih) timah, komoditas utama ekspor daerah tersebut.
Peristiwa ini menjadi sorotan warga setempat dan viral di media sosial. Anta Wirja, seorang warga Kota Pangkalpinang, membagikan konten video tentang harga belacan yang sangat mahal. Dalam video tersebut, ia menyampaikan bahwa harga belacan lebih mahal dari harga timah.
Konten yang diposting pada pekan lalu itu kemudian viral dan bahkan potongan videonya masuk tayangan televisi nasional. Anta mengatakan bahwa postingannya mendapat banyak respons, termasuk dari 50 ribu penonton. Ia juga tidak menyangka bahwa kontennya akan sampai sejauh itu karena awalnya hanya ingin berbagi informasi dari lapangan.
Belacan yang disebut Anta adalah bumbu dapur yang juga dikenal sebagai terasi. Saat membuat konten tersebut, ia menemukan bahwa harga belacan di Pasar Kota Pangkalpinang mencapai Rp250 ribu per kilogram. Bahkan ada pedagang yang menjualnya hingga Rp300 ribu per kilogram.
Anta menyebutkan bahwa reaksi masyarakat terhadap kenaikan harga belacan sangat besar dibandingkan komoditas lain. Menurutnya, masyarakat Babel ini unik karena meskipun harga BBM naik biasa saja dan harga kebutuhan lain naik juga masih santai, tetapi begitu belacan naik, langsung ramai. Semua orang bahas, dari ibu rumah tangga sampai pekerja, semuanya ikut komentar.
Untuk memastikan kondisi tersebut, Anta kemudian mendatangi langsung pasar langganannya. Ia mengunjungi Pasar Pagi Pangkalpinang dan bertemu dengan penjual belacan yang sudah menjadi langganan. Ia bertanya satu per satu kepada beberapa pedagang dan ternyata benar bahwa harga naik dua kali lipat bahkan lebih.
Di Bangka Belitung, belacan bukan sekadar bumbu pelengkap. Hampir seluruh masakan tradisional menggunakan bahan ini, seperti lempah kuning, lempah darat, hingga sambal. Anta mengatakan bahwa dalam seminggu bisa tiga kali masak pakai belacan. Jadi ini memang kebutuhan, bukan sekadar tambahan.
Ia bahkan menyebut belacan sebagai “kebutuhan pokok ke-10” bagi masyarakat Bangka. Kenaikan harga belacan mulai terasa menjelang Idul Fitri 2026. Anta mengaku awalnya hanya mendengar kabar dari tetangga sebelum memastikan langsung ke pasar. Awalnya dengar sudah Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Pas dia cek langsung, ternyata memang benar.
Menurutnya, harga belacan juga dipengaruhi kualitas. Belacan dengan warna kemerahan dan aroma khas biasanya dihargai lebih tinggi dibandingkan yang berwarna gelap. Ia menyebut belacan asal Toboali, Bangka Selatan, masih menjadi favorit masyarakat karena kualitasnya yang terjaga. Meski mahal, permintaan tetap tinggi.
Penyebab Kenaikan Harga Belacan
Sementara itu, Rama Karna Maulana, Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan, membenarkan adanya kenaikan harga belacan. Namun, ia menyebut harga di tingkat produsen tidak setinggi yang beredar di media sosial.
“Kalau di Bangka Selatan, kisaran Rp120 ribu sampai Rp150 ribu per kilogram. Sekarang mulai turun di angka Rp100 ribu sampai Rp120 ribu,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Rama menjelaskan bahwa kenaikan harga dipicu oleh terbatasnya pasokan bahan baku utama, yakni udang rebon. Kondisi ini menyebabkan produksi belacan menurun. Ia menambahkan, kondisi tersebut merupakan siklus tahunan yang dipengaruhi musim. Saat musim udang melimpah, produksi meningkat dan harga cenderung turun. Sebaliknya, ketika pasokan menurun, harga akan naik.










Discussion about this post