Seorang remaja perempuan berusia 18 tahun dengan inisial NA menjadi korban penyekapan dan pelecehan seksual oleh mantan kekasihnya, MA (20), di Kota Kendari. Kejadian ini terjadi di Kelurahan Gunung Jati, Kecamatan Kendari, pada Senin (29/6/2026). Selain mengalami penyekapan, korban juga mengaku menerima kekerasan fisik serta ancaman penyebaran video pribadi.
Lokasi penyekapan terjadi setelah korban memutus hubungan secara sepihak dan tidak merespons panggilan dari pelaku. Hal ini diduga menjadi alasan utama pelaku melakukan aksi tersebut. Beruntung, korban berhasil diselamatkan oleh aparat kepolisian pada Minggu (28/6/2026) setelah mengirimkan pesan rahasia kepada kakaknya.
Kronologi Penyekapan dan Pelecehan Seksual
Kejadian bermula saat pelaku MA mendatangi korban di tempat kerjanya di Jalan Saranani, Kecamatan Mandonga, pada Minggu (28/6/2026). Pelaku datang dalam keadaan marah karena tidak terima hubungan mereka diakhiri secara sepihak. Korban takut ada insiden di tempat kerjanya, sehingga terpaksa mengikuti pelaku. Tidak disangka, korban dibawa ke rumahnya di Kelurahan Gunung Jati.
“Saya takut terjadi apa-apa di outlet, karena banyak uang modal dan pemasukan hari itu. Dia memaksa saya ikut. Ternyata saya dibawa naik ke Gunung Jati,” kata korban.
Setelah sampai di rumah pelaku di kawasan Kelurahan Jati Mekar, korban langsung dikurung di dalam kamar. Di lokasi itu, korban mengaku dipaksa berhubungan badan oleh pelaku. Ketika menolak, korban justru menjadi sasaran kekerasan. Bahkan, pelaku mengancam akan menyebarkan video pribadinya jika korban tidak patuh.
Korban Mengaku Sering Jadi Korban Kekerasan
Dalam pengakuannya, korban mengakui bahwa hubungan dengan pelaku awalnya berjalan baik selama beberapa tahun. Namun, setelah memasuki tahun ketiga, pelaku disebut sering bersikap posesif, mudah cemburu, dan nekat melakukan tindakan kekerasan.
Korban akhirnya memutus hubungan pada April 2026 karena merasa lelah. Setelah putus, korban mengaku sering dikejar dan diteror oleh pelaku. Selain itu, pelaku juga mengontrol aktivitas media sosial korban dan melarang korban bergaul dengan laki-laki lain.
“Saya sudah tidak mau, saya tersiksa sekali. Kepala dan telinga saya dipukul berkali-kali sampai biru. Tangan saya robek kena gunting, lalu paha dan betis saya dipukul pakai kayu. Dia pegang ‘kartu’ saya. Ada video saya di kolam renang yang dijadikan senjata untuk mengancam. Dia bahkan bilang tidak akan melepaskan saya sampai saya cacat,” tambah korban.
Penyelamatan Berkat Pesan Rahasia
Korban mengaku sempat mengirimkan pesan rahasia kepada kakaknya saat pelaku sedang lengah. Setelah itu, kakak korban meminta bantuan kepolisian hingga akhirnya lokasi korban terlacak di rumah pelaku di kawasan Gunung Jati.
“Saya chat kakak saya, ‘Saya di sini, jangan balas chat-ku’. Itu agar dia tahu posisi saya tanpa memicu kecurigaan dia,” jelas korban.
Saat polisi tiba, pelaku diketahui sedang tertidur di kursi teras, sedangkan korban berada di lantai rumah dalam kondisi ketakutan. Korban akhirnya berhasil dievakuasi dalam keadaan tubuh gemetar. Meski begitu, momen penyelamatan berlangsung dramatis. Polisi sempat diserang sekelompok orang tak dikenal hingga mobil dan anggota mengalami luka.
“Mobil rusak dilempari batu, empat personel mengalami luka lemparan batu oleh sejumlah OTK yang saat ini telah kami kantong identitasnya,” jelas Kapolresta Kendari, Kombes Pol Edwin Louis Sengka.
Polisi masih memburu pelaku yang melakukan penyerangan saat evakuasi. Kejadian ini menjadi peringatan penting tentang perlunya kesadaran masyarakat terhadap kasus kekerasan dalam hubungan percintaan.











Discussion about this post