Rupiah Terus Tertekan, Tembus Rp17.400 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan kuat di tengah minimnya sentimen positif, baik dari dalam negeri maupun global. Saat ini, rupiah kembali melemah dan menembus level Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah hingga berdampak pada jalur strategis Selat Hormuz serta memicu ketidakpastian pasar global.
Ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menahan penguatan mata uang Garuda. Pada perdagangan terbaru, rupiah ditutup melemah 57 poin sebelumnya sempat melemah 60 poin di level Rp17.394 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.353. Hari ini mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.390- Rp17.440.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Rupiah
Menurut pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, tekanan eksternal terhadap rupiah masih dari ketegangan kawasan Timur Tengah, di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai upaya membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz. Selain itu, Trump telah menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, sementara Iran telah mengusulkan untuk mengesampingkan masalah nuklir hingga setelah perang berakhir dan kedua pihak sepakat untuk mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk.
Imbas adanya perang, aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus hingga mengalami kontraksi. Data Purchasing Managers Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai, kondisi rupiah saat ini masih rapuh meskipun terdapat peluang penguatan terbatas apabila tekanan global mereda. Arah rupiah pekan ini masih rapuh dan cenderung bergerak dalam kisaran lemah, meskipun ada peluang penguatan terbatas jika harga minyak dan dolar Amerika menurun.
Pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan diperkirakan masih berada dalam rentang terbatas, sekitar Rp 17.250 hingga Rp 17.500 per dolar AS. Namun, risiko pelemahan lanjutan masih terbuka, terutama jika harga minyak kembali naik di atas US$ 110 sampai US$ 115 per barel dan indeks dolar kembali menguat. Bahkan, Josua memperkirakan rupiah berisiko menguji rekor terlemah baru.
Sebaliknya, jika minyak turun lebih konsisten, dolar tertahan di kisaran 98 sampai 99, dan ada kabar positif dari jalur diplomasi, rupiah dapat menguat terbatas ke area Rp 17.200-an per dolar AS. Untuk akhir Mei 2026, target dasar saya adalah rupiah berada di kisaran Rp 17.200 sampai Rp 17.450 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 17.300.
Empat Sentimen Utama yang Mempengaruhi Rupiah
Josua menjelaskan terdapat empat sentimen utama yang membebani rupiah dan membuat rupiah lebih rentan dibanding mata uang negara yang tidak bergantung besar pada impor energi. Pertama, harga minyak yang tinggi karena konflik Timur Tengah dan ketidakpastian Selat Hormuz. Kedua, arah suku bunga Amerika Serikat yang lebih ketat dari harapan pasar. Ketiga, tekanan fiskal domestik karena kenaikan minyak akan memperbesar subsidi dan kompensasi energi. Keempat, kebutuhan dolar domestik untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, dan biaya pengiriman yang lebih mahal.
Faktor Internal yang Memperkuat Tekanan Rupiah
Faktor domestik juga tidak bisa diabaikan. Tekanan pada rupiah diperkuat oleh kekhawatiran pasar terhadap defisit transaksi berjalan, beban subsidi energi, dan persepsi risiko fiskal. Pada Maret dan April, tekanan rupiah juga terjadi bersamaan dengan arus modal asing yang belum benar-benar pulih. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada kuartal I 2026 investor asing masih mencatat arus keluar bersih sekitar US$1,78 miliar dari pasar domestik, meskipun instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatat arus masuk.
Rupiah Terperosok Hingga Di Atas Level Rp17.400
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5/2026) semakin terperosok hingga di atas level Rp17.400. Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.32 WIB, rupiah sudah melemah ke posisi Rp 17.428 per dolar AS, turun 0,20 persen dibanding sehari sebelumnya.
Penyebab utama pelemahan mata uang rupiah yaitu faktor eksternal, di mana Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) menyerang kapal milik Iran. Serangan AS ke kapal Iran ini menewaskan banyak tentara Iran. Kondisi ini membuat ketegangan baru di Selat Hormuz. Selain itu, ketegangan geopolitik juga terjadi antara Ukraina dan Rusia, di mana Ukraina melakukan pengeboman ke kilang minyak milik Rusia. Ini berdampak terhadap penurunan produksi minyak Rusia hingga 10 persen. Sehingga ini berdampak pada harga minyak dunia, Bren maupun WTI.
Tercatat, saat ini harga kontrak berjangka minyak Brent untuk Juli di level 113,76 dolar AS per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di posisi 104,83 dolar AS per barel. Jika harga minyak dunia melambung, maka kebutuhan terhadap dolar AS akan meningkat karena transaksi banyak negara masih menggunakan mata uang negeri Paman Sam.
BI Intervensi Pasar
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea menegaskan, pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya. Ia mencontohkan, Philippine Peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand Baht melemah 5,04 persen, India Rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile Peso melemah 4,24 persen. Indonesia Rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won melemah 2,29 persen.
Pada perdagangan pagi hari ini, rupiah Indonesia dan ringgit Malaysia memimpin pelemahan terhadap dolar AS. Rupiah berada di level Rp17.403 per dolar AS, melemah sekitar 0,22 persen dibandingkan posisi hari sebelumnya di Rp17.365 per dolar AS. Sementara itu, ringgit Malaysia turun 0,25 persen ke level 3,96 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada peso Filipina yang turun 0,23 % menjadi 61,707 per dolar AS.
Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. “Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder,” tuturnya.
Transaksi NDF merupakan kontrak derivatif valuta asing berjangka di mana penyelesaian transaksi dilakukan secara tunai (netting) berdasarkan selisih kurs, tanpa pertukaran fisik mata uang pokok. NDF umumnya digunakan untuk lindung nilai atau spekulasi mata uang negara berkembang yang dibatasi (tidak dapat diperdagangkan secara bebas/ non-convertible). Sedangkan DNDF adalah instrumen derivatif valas terhadap Rupiah standar (plain vanilla) yang digunakan untuk lindung nilai (hedging) risiko nilai tukar di pasar domestik tanpa pertukaran pokok fisik. Penyelesaian dilakukan bersih (netting) dalam Rupiah berdasarkan selisih kurs kontrak dan kurs fixing pada tanggal jatuh tempo.
Menurut Erwin, langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global. “Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” paparnya.










Discussion about this post