Perkembangan Kurs Rupiah di Pasar Spot
Kurs rupiah pada pasar spot berhasil menguat sedikit sebesar 0,07% ke tingkat Rp 17.412 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/5) pagi. Meskipun terjadi penguatan, mata uang Garuda masih rentan mengalami penurunan kembali akibat berbagai sentimen negatif yang masih ada di pasar.
Menurut analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, rebound yang dialami rupiah disebabkan oleh tekanan terhadap dolar AS, yang terjadi setelah adanya harapan akan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran. Donald Trump memberikan indikasi bahwa ada kemajuan besar menuju kesepakatan akhir dengan Teheran.
Selain itu, data pertumbuhan ekonomi nasional yang realisasinya lebih kuat juga turut mendukung pergerakan rupiah. Namun, faktor eksternal seperti harga minyak dunia lebih dominan dalam memengaruhi kurs rupiah.
Rupiah masih rentan tertekan karena gejolak geopolitik di Timur Tengah yang terus berlangsung. Hal ini berdampak pada fluktuasi harga minyak mentah dunia. Jika harga minyak tetap tinggi, maka rupiah akan terus mengalami tekanan.
Dari dalam negeri, langkah-langkah Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan kurs rupiah melalui intervensi langsung maupun kebijakan lainnya diyakini dapat menjaga volatilitas rupiah. Namun, upaya tersebut tidak bertujuan untuk menguatkan rupiah secara signifikan.
Lukman memperkirakan, kurs rupiah bisa terperosok hingga level Rp 18.000 per dolar AS pada akhir 2026, terutama jika situasi di Timur Tengah belum membaik. Ia juga menyatakan bahwa apakah bisa lebih cepat mencapai level tersebut adalah mungkin, namun BI akan terus berupaya menahan pelemahan yang cepat dan besar.
Di sisi lain, jika perdamaian di Timur Tengah tercapai dan harga minyak menyusut ke kisaran US$ 70 per barel, maka besar kemungkinan rupiah akan kembali menguat secara perlahan ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS.
Selain itu, Lukman menilai bahwa upaya BI untuk mengintervensi rupiah sudah cukup efektif. Namun, untuk masa depan, BI juga bisa menambah tenaga ke rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan di kisaran 15–25 bps dalam jangka pendek.
Para investor tidak perlu khawatir karena tren koreksi rupiah akhir-akhir ini masih dalam rentang yang wajar. Penguatan dolar AS belakangan ini tidak terlalu signifikan dan berkelanjutan.
Jadi, dolar AS terlihat rentan koreksi besar apabila perdamaian tercapai. Sebaliknya, dolar tidak memiliki banyak ruang penguatan walau perang berkelanjutan.










Discussion about this post