Perombakan Kepemimpinan Badan Gizi Nasional: Nanik S Deyang Ditunjuk Presiden Prabowo
Pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto kembali menunjukkan dinamika perombakan pada posisi-posisi strategis di lingkungan eksekutif. Kali ini, sorotan tertuju pada Badan Gizi Nasional (BGN) yang kini memiliki nakhoda baru. Presiden Prabowo secara resmi menunjuk Nanik S Deyang untuk menduduki kursi Kepala BGN, menggantikan pejabat sebelumnya, Dadan Hindayana. Keputusan penting ini disampaikan langsung di kompleks Istana Kepresidenan, menandai babak baru dalam upaya penguatan gizi nasional.
Pengumuman pergantian kepemimpinan ini disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam sebuah keterangan pers pada Selasa, Juni 2026. “Untuk selanjutnya, Bapak Presiden memutuskan mengangkat Saudari Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN,” ujar Prasetyo Hadi, menegaskan mandat yang diberikan kepada Nanik.
Pergantian ini tidak hanya melibatkan pucuk pimpinan, tetapi juga dua posisi wakil kepala BGN. Brigjen Polisi Sony Sonjaya dan Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung turut diberhentikan dari jabatannya seiring dengan perubahan ini.
Profil Nanik S Deyang: Perpaduan Pengalaman Jurnalisme dan Keterlibatan Politik
Nanik S Deyang bukanlah sosok asing dalam lanskap Badan Gizi Nasional. Sebelum dipercaya memimpin lembaga tersebut, ia telah mengemban tugas sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Pengalaman ini memberikannya pemahaman mendalam mengenai operasional dan tantangan yang dihadapi BGN.
Perjalanan profesional Nanik dimulai dari dunia jurnalisme. Ia mengawali kariernya sebagai seorang wartawati di Tabloid Bangkit, sebuah media yang berada di bawah naungan Kompas Gramedia. Selama berkarier di industri media massa, Nanik dikenal sebagai jurnalis yang kritis dan memiliki wawasan luas terhadap berbagai isu sosial, ekonomi, hingga politik di Indonesia. Ketajaman analisisnya terus terasah, hingga akhirnya ia dipercaya untuk memimpin Kelompok Media Peluang (KMP).
Kiprah Nanik tidak berhenti di dunia media. Ia kemudian merambah ke ranah politik praktis, di mana kedekatan emosional dan kesamaan visi dengan Presiden Prabowo Subianto telah terjalin cukup lama. Peran pentingnya terlihat jelas saat gelaran Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, di mana ia menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur. Pengalaman ini memberikannya pemahaman strategis dalam arena politik.
Kepercayaan terhadap Nanik terus berlanjut ke dalam struktur pemerintahan. Pada bulan Oktober 2024, ia dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Wakil I Badan Pengentasan Kemiskinan, dengan masa bakti 2024-2029. Namun, dinamika tugasnya kembali bergeser. Pada 17 September 2025, Nanik ditarik untuk mengisi posisi Wakil Kepala BGN, sekaligus melepaskan jabatannya di kedeputian pengentasan kemiskinan.
Keterlibatan di Sektor Korporat
Selain kiprahnya di lembaga pemerintah dan dunia jurnalisme, Nanik S Deyang juga memiliki rekam jejak yang signifikan di sektor korporat, khususnya di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Saat ini, ia tercatat menduduki posisi sebagai Komisaris Independen di PT Pertamina (Persero).
Amanah di salah satu BUMN terbesar di Indonesia ini disahkan melalui Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara selaku Pemegang Saham Seri A Dwiwarna PT Pertamina (Persero). Surat keputusan resmi yang menunjuknya dikeluarkan pada tanggal 1Juni 2026 2025, menegaskan perannya dalam tata kelola perusahaan pelat merah tersebut.
Penunjukan Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN ini diharapkan membawa angin segar dan inovasi dalam upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Perpaduan latar belakangnya yang kuat di bidang jurnalisme, pengalaman politik, serta peranannya di BUMN, memberikan perspektif yang unik dan komprehensif dalam menghadapi tantangan di sektor kesehatan dan gizi.










Discussion about this post