Mama Yasinta Moiwen: Penjaga Kearifan Lokal dalam Pusaran Pembangunan
Di tengah hamparan tanah Kampung Wogikel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, berdiri teguh sosok perempuan tangguh bernama Mama Yasinta Moiwen. Ia bukan sekadar warga biasa, melainkan penjaga marwah dan bagian tak terpisahkan dari keluarga besar pemilik wilayah adat, yang dengan teguh memegang erat kearifan lokal. Perannya dalam berbagai kegiatan adat menjadikannya tiang penyangga budaya, memastikan napas tradisi tetap berdenyut di tengah derasnya arus zaman.
Kisah perjuangan Mama Yasinta dan komunitas adatnya kemudian tersingkap ke publik melalui sebuah film dokumenter berjudul “Pesta Babi”. Melalui layar lebar, perjuangan mereka menjadi cermin bagi persoalan besar yang tengah bergulir di Bumi Cenderawasih. Perjuangan Mama Yasinta bukan lagi sekadar cerita lokal, melainkan sebuah suara yang mengetuk pintu nurani banyak orang, menyadarkan akan pentingnya menjaga warisan budaya dan hak-hak masyarakat adat.
Refleksi Persaudaraan dari Tanah Papua Tengah
Menanggapi kisah yang diangkat dalam film dokumenter tersebut, dari Kabupaten Nabire, Papua Tengah, seorang pemuda Papua bernama Arnold Kandenapa memberikan refleksi mendalam mengenai persaudaraan. Bagi Arnold, apa yang dialami oleh Mama Yasinta di Merauke bukanlah persoalan sekelompok orang semata, melainkan sebuah tanggung jawab kolektif yang harus dipikul bersama oleh seluruh masyarakat Papua.
“Yang terjadi di Papua Selatan mengingatkan kita bahwa kita adalah satu saudara, satu darah, dan satu bangsa,” ujar Arnold, menekankan pentingnya persatuan di atas segala perbedaan.
Arnold menegaskan bahwa sekat-sekat administratif yang membagi wilayah Papua menjadi Papua Selatan, Papua, Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya, hingga Papua Pegunungan, tidak seharusnya meruntuhkan rasa persaudaraan yang mengikat orang asli Papua.
- Satu Kesatuan yang Tak Terpisahkan:
Kita adalah satu kesatuan yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Tantangan yang dihadapi di satu wilayah adat, seperti di wilayah adat Wanam, adalah tantangan yang harus dipikul secara bersama-sama oleh seluruh anak bangsa Papua.
Tuntutan Keadilan dan Kesejahteraan bagi Masyarakat Adat
Lebih lanjut, Arnold Kandenapa mendesak pemerintah pusat untuk memberikan perhatian yang nyata dan mendampingi Mama Yasinta beserta keluarga besar pemilik wilayah adat di Merauke. Menurutnya, perhatian serius sangat dibutuhkan oleh masyarakat di sana, terutama dalam menghadapi pelaksanaan Program Strategis Nasional (PSN) yang saat ini tengah berlangsung.
Arnold mengingatkan bahwa pembangunan yang digagas oleh negara sejatinya bertujuan untuk kemakmuran seluruh rakyat. Namun, tujuan mulia tersebut akan kehilangan maknanya jika tidak menempatkan kesejahteraan masyarakat adat sebagai titik tolak utama.
- Pentingnya Pendengaran dan Pemahaman:
Setiap kebijakan pembangunan haruslah didasarkan pada pendengaran dan pemahaman yang mendalam terhadap kepentingan masyarakat adat sejak tahap awal perumusan. Jangan sampai kemajuan pembangunan justru membuat pemilik tanah leluhur merasa terasing di tanah mereka sendiri.
Arnold berharap agar pembangunan di tanah Papua dapat dilakukan bersama orang Papua, oleh orang Papua, dan demi kebahagiaan orang Papua.
“Kiranya dari Papua Tengah, suara ini dapat menjadi doa dan tuntutan agar keadilan serta kesejahteraan benar-benar hadir, menyentuh setiap anak bangsa di ujung timur Indonesia,” pungkasnya.
Perjuangan Mama Yasinta Moiwen, dalam pandangan Arnold, merupakan pengingat penting bahwa di balik setiap angka pembangunan, terdapat napas kemanusiaan yang harus selalu dijaga dan dimuliakan. Ini adalah panggilan untuk memastikan bahwa kemajuan tidak mengorbankan akar budaya dan hak-hak fundamental masyarakat adat.










Discussion about this post