Diskusi “Bincang Sagu” di Jayapura untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan di Papua
Yayasan Colo Sagu Nusantara (CSN) menggelar diskusi publik bertajuk “Bincang-Bincang Sagu” di Taman Imbi, Kota Jayapura, pada Rabu (20/5/2026) malam. Acara ini digelar dalam rangka memperkuat upaya mengatasi ancaman kerawanan pangan di Tanah Papua. Diskusi ini juga menjadi langkah awal atau pra-event menyambut Festival Colo Sagu (FCS) III yang akan berlangsung pada 19-21 Juni 2026 mendatang.
Diskusi ini menghadirkan empat narasumber yang mewakili berbagai kalangan, seperti lembaga legislatif, birokrasi pembangunan, keterwakilan adat kampung, serta pakar antropologi. Keempat narasumber tersebut adalah Musa Sombuk, July Edy Way, Rina Yaniku Krebru, dan Lewi Puhili. Seluruh gagasan dari para pemateri akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan tertulis guna memperkuat peta jalan menuju Festival Colo Sagu III.
Tampak hadir dalam acara ini antara lain Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, Sekda Papua, Christian Sohilait, serta pejabat di lingkup Polresta Jayapura Kota.
Potensi Besar Tanaman Sagu di Papua
Ketua Yayasan CSN, Michael Jhon Yarisetouw, menjelaskan bahwa wilayah Papua saat ini menghadapi ironi besar terkait ketahanan pangan. Berdasarkan laporan eksekutif situasi kewaspadaan pangan dan gizi nasional rilis Maret 2026 oleh Badan Pangan Nasional, sebanyak lima provinsi di Papua masih masuk dalam kategori waspada pangan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua tahun 2025 juga menunjukkan tingginya ketergantungan pasokan beras dari luar daerah. Padahal, di bawah tanah Papua yang kaya ini, terbentang sekitar 5,2 juta hektar lahan sagu yang merupakan 85 persen cadangan sagu dunia.
Michael menjelaskan bahwa produktivitas sagu sangat tinggi karena mampu menghasilkan 20 hingga 40 ton pati kering per hektar setiap tahun. Jumlah tersebut jauh melampaui produktivitas komoditas beras dan jagung. Selain itu, tanaman sagu dapat tumbuh subur tanpa pupuk kimia, memiliki ketahanan terhadap banjir, mampu menyimpan karbon, serta menjaga keanekaragaman hayati.
Diversifikasi Pemanfaatan Sagu
Pada kesempatan yang sama, Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol. Frederickus WA Maclarimboen, inisiator dan pendukung gerakan, menyoroti pentingnya diversifikasi pemanfaatan sagu. Menurutnya, potensi ekonomi tanaman asli Papua ini tidak boleh hanya dilihat dari pemenuhan kebutuhan pangan struktural atau konsumsi harian semata.
“Sagu juga bisa jadi bioetanol, sesuai dengan riset yang sudah dilakukan oleh beberapa kampus. Sagu juga sudah bisa jadi briket,” ujar Frederickus. Ia menambahkan bahwa serat tanaman sagu memiliki kualitas sangat baik dan tahan terhadap tekanan udara. Karakteristik khusus tersebut membuat serat sagu berpotensi dikembangkan sebagai salah satu komponen bahan baku pembuatan dinding pesawat terbang.
Guna mewujudkan potensi industri tersebut, ia mendorong penguatan sektor riset dan pengembangan teknologi pertanian di Papua. Melalui dukungan riset yang kuat, pemerintah daerah diharapkan mampu menciptakan varietas sagu unggul dengan masa tanam yang lebih pendek.
Tiga Pilar Utama Gerakan Colo Sagu
Gerakan Colo Sagu secara konsisten mengusung tiga pilar utama pembangunan daerah yang berkelanjutan. Tiga pilar tersebut meliputi:
- Penguatan ketahanan pangan lokal
- Pelestarian kearifan budaya masyarakat
- Menjaga keberlanjutan lingkungan hidup
Sebagai informasi, FCS III tahun 2026 rencananya akan mengusung tema besar “Sagu Menghidupi: Dari Hutan ke Meja, dari Tradisi ke Industri”.
Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional, Yayasan CSN mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat aktif dalam gerakan menjaga ekosistem hutan Papua demi kedaulatan pangan masa depan.










Discussion about this post